Reska K. Nistanto

Wartawan teknologi dan pehobi dunia penerbangan.

kolom

Menyoal Pelayanan Maskapai Penerbangan bagi Lansia dan Penyandang Disabilitas

Kompas.com - 12/01/2017, 14:24 WIB
Seorang pramugari Garuda Indonesia menggendong penumpang lanjut usia beberapa waktu lalu. Foto ini menjadi viral di media sosial. ISTIMEWASeorang pramugari Garuda Indonesia menggendong penumpang lanjut usia beberapa waktu lalu. Foto ini menjadi viral di media sosial.
EditorDeliusno

"Pesawat harus memiliki cabin wheelchair, kursi roda kecil yang bisa berjalan di lorong, sehingga saya bisa dipindahkan ke kursi roda itu, Garuda tidak memiliki kursi roda seperti itu," katanya.

Kala itu, juru bicara Garuda Indonesia Ikhsan Rosan mengatakan sebenarnya Garuda memiliki kursi roda seperti itu, namun hanya tersedia di pesawat berbadan lebar (widebody), seperti A330 dan B777.

Kursi roda menurut Ikhsan tidak tersedia di pesawat berbadan sempit (lorong tunggal/narrow body), tanpa menjelaskan alasannya. Ikhsan juga tidak menjelaskan apakah kursi roda yang dimaksud adalah jenis aisle wheelchair (WCHC) atau kursi roda biasa pada umumnya.

Bukan mengecilkan pramugari

Perlu dijelaskan di sini bahwa tulisan ini bukan untuk mengecilkan inisiatif awak kabin Garuda Indonesia. Namun lebih mempertanyakan bagaimana standar prosedur yang aman jika kejadian ini berulang kembali.

Awak kabin adalah kru yang terlatih. Mereka dituntut untuk bisa mengambil keputusan dalam waktu singkat, dengan mempertimbangkan situasi dan risiko yang kemungkinan terjadi. Mereka yang lemah lembut menyapa di pintu pesawat itu bisa mendadak terampil dan sigap menjadi orang yang bisa Anda andalkan saat penerbangan dalam situasi genting.

Jika pada akhirnya awak kabin Garuda memilih untuk menggendong ibu lansia tadi, pasti juga telah disertai dengan pertimbangan-pertimbangan lainnya, seperti mempercepat turnaround time sebelum penumpang penerbangan berikutnya boarding, atau si Ibu yang harus mengejar penerbangan lanjutan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Awak kabin tersebut juga pasti sudah menilai kemampuannya apakah mampu menggendong ibu lansia tersebut secara aman hingga ke pintu pesawat, dan bekerja secara hati-hati agar tidak menimbulkan kerugian lain yang tidak diinginkan, misalnya risiko dua-duanya terjatuh.

Saya sendiri melihat hal ini sebagai improvisasi yang dilakukan awak kabin, setelah menunggu ambulift atau kursi roda yang diminta tidak kunjung datang.

Meski demikian, alangkah baiknya jika pujian terhadap inisiatif awak kabin Garuda Indonesia itu disertai dengan pemikiran kritis. Bagaimana sebenarnya SOP dalam menangani penumpang berkebutuhan khusus? Sudahkah maskapai-maskapai kita menerapkannya?

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.