Kompas.com - 17/01/2017, 17:01 WIB
|
Editor Deliusno

KOMPAS.com - Lima belas tahun yang lalu, tepatnya pada 16 Januari 2002, pesawat B737-300 Garuda Indonesia penerbangan GA421 ditching atau mendarat di anak sungai Bengawan Solo. Penyebabnya, kedua mesin pesawat mati saat terbang akibat menembus badai hujan dan es.

Pesawat rute Lombok - Yogyakarta itu membawa 54 penumpang dan 6 kru. Seluruh penumpang selamat, tetapi seorang kru awak kabin ditemukan tewas, diduga akibat benturan saat pesawat mendarat.

Peristiwa itu menghasilkan salah satu masukan yang penting untuk dunia penerbangan, khususnya pabrikan mesin pesawat berdasar investigasi yang dilakukan oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).

Namun sebelum melompat ke kesimpulan hasil investigasi dan rekomendasi KNKT, mari mengulas kembali kisah keajaiban yang terjadi 15 tahun yang lalu itu.

GA421 dijadwalkan terbang dari Selaparang, Mataram, pada pukul 15.00 WITA. Pesawat B737-300 registrasi PK-GWA yang dipiloti oleh Kapten Abdul Rozak itu kemudian menuju ketinggian jelajah 31.000 kaki. Pesawat dijadwalkan tiba di Yogyakarta sekitar pukul 17.30 WIB.

Namun saat meninggalkan ketinggian jelajah untuk turun ke bandara Adisutjipto, di atas wilayah Rembang, kapten penerbangan memutuskan untuk sedikit menyimpang dari rute seharusnya, atas izin ATC. Hal itu dilakukan karena di depan terdapat awan yang mengandung hujan dan petir. Kru pesawat mencoba untuk terbang di antara dua sel awan badai.

Baca: Pesawat EgyptAir Jatuh karena iPhone Meledak di Kokpit?

Sekitar 90 detik setelah memasuki awan yang berisi hujan, saat pesawat turun ke ketinggian 18.000 kaki dengan kondisi mesin dalam posisi idle, kedua mesin tiba-tiba mati dan kehilangan daya dorong (thrust).

Pilot dan kopilot pun saat itu mencoba untuk menghidupkan unit daya cadangan (auxiliary power unit/APU) untuk membantu menyalakan mesin utama, tetapi tidak berhasil. Penyelidikan yang dilakukan menyebut bahwa kru kokpit mencoba menyalakan mesin dengan interval setiap satu menit. Manual B737 yang dikeluarkan Boeing menyebut APU mesti dinyalakan dalam interval 3 menit sekali.

Ketika pesawat sampai di ketinggian 8.000 kaki, dan kedua mesin belum berhasil di-restart, pilot melihat alur anak sungai Bengawan Solo dan memutuskan untuk melakukan pendaratan di sana. Pesawat pun melakukan ditching tanpa mengeluarkan roda pendaratan maupun flaps (menjulurkan sayap).

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

20 Desember, Siaran TV Analog di 10 Wilayah Jawa Timur Akan Dimatikan

20 Desember, Siaran TV Analog di 10 Wilayah Jawa Timur Akan Dimatikan

Internet
Viral Lensa AI buat Bikin Avatar, Apa Itu dan Bagaimana Cara Menggunakannya?

Viral Lensa AI buat Bikin Avatar, Apa Itu dan Bagaimana Cara Menggunakannya?

Software
iQoo Neo 7 SE Meluncur dengan Dimensity 8200, Ini Spesifikasinya

iQoo Neo 7 SE Meluncur dengan Dimensity 8200, Ini Spesifikasinya

Gadget
Daftar Harga iPhone Terbaru Desember 2022: iPhone 12, iPhone 13, iPhone 14, dan iPhone SE 3

Daftar Harga iPhone Terbaru Desember 2022: iPhone 12, iPhone 13, iPhone 14, dan iPhone SE 3

e-Business
Sempat Ditunda, Peluncuran Xiaomi 13 Jadi 11 Desember

Sempat Ditunda, Peluncuran Xiaomi 13 Jadi 11 Desember

Gadget
Foto 'OOTD' Pakai FlexCam Galaxy Z Flip 4 di HITC Jakarta, Gampang dan Tak Perlu Kamerawan

Foto "OOTD" Pakai FlexCam Galaxy Z Flip 4 di HITC Jakarta, Gampang dan Tak Perlu Kamerawan

Gadget
Chip Mediatek Dimensity 8200 Resmi Meluncur, Dukung Ray Tracing

Chip Mediatek Dimensity 8200 Resmi Meluncur, Dukung Ray Tracing

Hardware
Samsung Galaxy Z Flip 4 Juara buat Dibawa Nonton Konser

Samsung Galaxy Z Flip 4 Juara buat Dibawa Nonton Konser

Gadget
Intel Core i3 Gen 13 Meluncur Awal 2023, Mengapa Tak Berbarengan?

Intel Core i3 Gen 13 Meluncur Awal 2023, Mengapa Tak Berbarengan?

Hardware
[POPULER TEKNO] Pura-pura Hamil untuk Selundupkan Ratusan Chip dan iPhone | HP Baru dari Infinix dan iQoo | Internet 4G Vs 5G di Indonesia

[POPULER TEKNO] Pura-pura Hamil untuk Selundupkan Ratusan Chip dan iPhone | HP Baru dari Infinix dan iQoo | Internet 4G Vs 5G di Indonesia

Internet
15 Link Download Twibbon Hari Antikorupsi Sedunia 2022 dan Logonya

15 Link Download Twibbon Hari Antikorupsi Sedunia 2022 dan Logonya

Internet
Link Pendaftaran Volunteer Piala Dunia U-20 2023 di Indonesia dan Syaratnya

Link Pendaftaran Volunteer Piala Dunia U-20 2023 di Indonesia dan Syaratnya

e-Business
Google Gandeng AGI dan Unity untuk Latih Developer Game Indonesia

Google Gandeng AGI dan Unity untuk Latih Developer Game Indonesia

e-Business
Prisma Labs Tak Ingin Lensa AI Dipakai Bikin Foto Porno

Prisma Labs Tak Ingin Lensa AI Dipakai Bikin Foto Porno

Software
Tecno Phantom X2 dan Phantom X2 Pro Meluncur dengan Kamera Maju Mundur

Tecno Phantom X2 dan Phantom X2 Pro Meluncur dengan Kamera Maju Mundur

Gadget
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.