Kantor Twitter Didemo karena Tidak Bisa "Bungkam" Donald Trump

Kompas.com - 27/01/2017, 15:24 WIB
Pengunjuk rasa di depan kantor pusat Twitter di San Francisco, AS, menuntut Twitter melarang Trump mengakses platform mikroblog. BusinessInsiderPengunjuk rasa di depan kantor pusat Twitter di San Francisco, AS, menuntut Twitter melarang Trump mengakses platform mikroblog.
|
EditorReza Wahyudi

KOMPAS.com — Massa yang terdiri dari puluhan orang berkumpul di depan kantor pusat Twitter di San Francisco, AS, pada Kamis (26/1/2017) sore waktu setempat. Mereka berunjuk rasa meminta Twitter mengusir Presiden AS, Donald Trump, dari platform mikroblog berlogo burung.

"Tegakkan kebijakan Anda, larang Donald Trump," para pengunjuk rasa berkoar, sebagaimana dihimpun KompasTekno, Jumat (27/1/2017), dari BusinessInsider.

Pengunjuk rasa juga mengatakan berulang-ulang bahwa mereka membutuhkan seorang pemimpin negara, bukan pengguna Twitter yang menyeramkan. Ada pula proyektor yang mereka bawa dan tancapkan ke dinding kantor Twitter.

Tulisan yang dipancarkan proyektor itu mengindikasikan bahwa Trump tak beda dengan Adolf Hitler, yakni pemimpin Partai Buruh di Jerman pada era 1900-an. Hitler dikenal sebagai sosok yang keras dan otoriter.

Kenapa Twitter?

Diketahui, Trump selama ini paling aktif menggunakan Twitter sebagai medium untuk menyuarakan opininya. Beberapa kali kicauannya dianggap bermuatan rasialisme, propaganda, dan melecehkan jender tertentu. Tak jarang, Trump juga menyerang musuh-musuhnya secara personal via Twitter.

Para pengunjuk rasa menganggap Twitter sebagai corong Trump dan tak berbuat apa-apa ketika Presiden ke-45 AS itu melontarkan kalimat-kalimat tak pantas.

"Twitter mengizinkan dirinya untuk jadi penyambung lidah fasisme dan jadi mesin propaganda terbesar di dunia," begitu tertera pada umbul-umbul yang dibawa para pengunjuk rasa.

Twitter belum memberikan tanggapan atas demonstrasi massa yang terjadi di depan kantornya. Sebelumnya, Twitter pernah sesumbar bakal mengunci akses Trump ke akun personal @realDonaldTrump jika pengusaha tersebut terbukti menebar kebencian via Twitter. Namun, hingga kini, Trump masih bebas mengakses akun Twitter-nya.

Baca: 500.000 Akun Dipaksa Ikuti Twitter Presiden Trump, Ada Apa?

Selain kantor Twitter, kantor Uber di San Francisco juga sempat disambangi pengunjuk rasa. Mereka kecewa dengan keterlibatan CEO Uber, Travis Kalanick, dalam tim penasihat ekonomi Trump.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.