Kompas.com - 02/02/2017, 14:34 WIB
Penulis Oik Yusuf
|
EditorReska K. Nistanto

JAKARTA, KOMPAS.com — Perusahaan transportasi online, Grab, menyatakan bakal menanam modal sebesar 700 juta dollar AS di Indonesia (setara Rp 9,3 triliun). Dengan komitmen tersebut, Grab menyebut diri ikut mendukung target Indonesia menjadi ekonomi terbesar di Asia Tenggara pada 2020 mendatang.

"Investasi sebesar 700 juta dollar AS itu akan direalisasikan dalam jangka waktu empat tahun. Ini wujud kemitraan kami dengan pemerintah Indonesia," ujar co-founder sekaligus CEO Grab, Anthony Tan, dalam acara pengumuman komitmen investasi Grab di Jakarta, Kamis (2/2/2017).

Investasi Grab antara lain akan diwujudkan melalui pembangunan pusat riset dan pengembangan teknologi (R&D center) di Jakarta, serta perekrutan tenaga kerja ahli (engineer) lokal sebanyak 150 orang.

Sebagian dana, sebesar 100 juta dollar AS, turut dialokasikan sebagai bantuan modal bagi startup Indonesia dalam rangka mendukung program 1.000 startup yang diinisiasi oleh pemerintah.

Baca: Grab Turunkan Tarif Layanan Taksi Online

Pada saat bersamaan, Grab berencana terus mengembangkan layanan transportasi online miliknya, terutama menyangkut mekanisme mobile payment (Grab Pay) yang dinilai masih memiliki potensi besar di Tanah Air.

"Di Indonesia, sebagian besar orang tidak memiliki rekening bank, termasuk para pengguna ponsel. Kami melihat peluang untuk menyediakan opsi payment digital di sini," imbuh Tan.

Ketua Badan Koordinasi Penanaman Modal Indonesia Thomas Lembong menyambut baik komitmen investasi Grab. Jumlah 700 juta dollar AS yang akan direalisasikan itu, menurut dia, terbilang sangat besar.

"Ini (investasi Grab) sangat mengena dalam hal capital inflow. Ikut mengena juga di aspek vokasional atau ketenagakerjaan di Indonesia," kata Thomas.

Dia ikut memberi tanggapan positif terhadap rencana Grab terus mendorong pengembangan digital payment di Tanah Air. Menurut Thomas, digital payment akan membantu masyarakat dalam memanfaatkan teknologi pembayaran modern yang bersifat cashless.

"Hanya sekitar 30 persen orang Indonesia yang punya rekening bank," kata Thomas. "Saya rasa kita akan lompat dari penetrasi (perbankan) rendah, langsung ke mobile banking. Ngapain lagi orang-orang pakai kertas?"

Baca juga: Mantan Kapolri Badrodin Haiti Jadi Komisaris Utama Grab

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.