Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 24/03/2017, 14:54 WIB
Penulis Oik Yusuf
|
EditorReska K. Nistanto

KOMPAS.com - Setelah selama ini hanya meyediakan layanan gratis yang didukung iklan, Twitter kabarnya tengah mempertimbangkan untuk merilis layanan premium berbayar.

Layanan berbayar itu bakal diaplikasikan untuk layanan TweetDeck, dan ditujukan untuk para pengguna profesional. Para pengguna layanan tersebut akan dikenakan biaya langganan.

Dugaan rencana Twitter meluncurkan layanan berbayar pertama kali mengemuka saat seorang jurnalis New York Times mengunggah bocoran antarmuka versi premium dari TweetDeck, dashboard untuk menampilkan bermacam aliran list di Twitter.

Di dalamnya, tampak bahwa Twitter menyajikan tool analytics, notifikasi breaking news, serta informasi mengenai topik tweet dari follower pengguna. Semuanya bisa dilihat dalam satu dashboard.
 
Seorang juru bicara Twitter mengungkapkan bahwa pihaknya kini tengah mengadakan survei untuk mendapat masukan dari pengguna, cara menjadikan TweetDeck lebih bermanfaat untuk pengguna profesional, dalam hal ini termasuk marketer dan jurnalis.

@andrewtavani/ Twitter Bocoran screenshot antarmuka TweetDeck yang kabarnya akan dijadikan basis layanan berbayar dari Twitter.

“Apakah Anda menggunakan Twitter untuk bekerja atau hanya ingin tahu soal berita, olahraga, hiburan, politik, dan informasi terkini, antarmuka TweetDeck yang baru akan membantu Anda mendapatkan lebih banyak manfaat dari Twitter,” sebut sang juru bicara, sebagaimana dirangkum KompasTekno dari The Verge, Jumat (24/3/2017).

Tidak disebutkan apakah Twitter benar-benar akan menarik bayaran dari layanan premium tersebut, atau berapa besar biaya langganan nantinya. Jurnalis New York Times, Andrew Tavani mengatakan bahwa salah satu besaran biaya yang tengah dipertimbangkan Twitter adalah 20 dollar AS (sekitar Rp 267.000) per bulan.

Versi berbayar disinyalir akan bebas iklan. Sementara, layanan inti Twitter akan tetap tersedia secara gratis dengan selingan materi promosi.

Twitter sendiri memang memerlukan jalur pemasukan lain di luar iklan. Meski memiliki jumlah pengguna mencapai 319 juta, Twitter belum berhasil menjadikan iklan sebagai sumber pemasukan besar seperti yang dilakukan jejaring sosial lain, macam Facebook.

Sebaliknya, pendapatan iklan Twitter diketahui menurun pada kuartal IV 2016 dibandingkan kuartal yang sama tahun sebelumnya.

Baca: Cara Hemat Kuota Data Saat Tonton Video Facebook, Instagram, dan Twitter

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Sumber The Verge

Video rekomendasi
Video lainnya


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.