Kegigihan TKI Perempuan Belajar "Coding", Sehabis Kerja dan Pantang Libur

Kompas.com - 26/03/2017, 09:09 WIB
Setia Darma (ka) dan istri (ki), pengajar Coding Mum untuk TKI di Singapura. Fatimah Kartini Bohang/kompas.comSetia Darma (ka) dan istri (ki), pengajar Coding Mum untuk TKI di Singapura.
|
EditorReza Wahyudi

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemrograman komputer (coding) kerap distereotipkan sebagai keterampilan "berkelas", dalam artian cuma mereka yang berpendidikan tinggi yang mampu menguasainya.

Alhasil pekerjaan sebagai programer pun menjadi elitis dan eksklusif. Padahal, di era serba digital, programer andal dibutuhkan dalam jumlah masif untuk mendorong perkembangan ekonomi.

Hal ini disadari Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) selaku lembaga pemerintahan yang bertanggung jawab mendorong perekonomian kreatif, salah satunya di sektor digital. Untuk itu, Bekraf menggelar program pelatihan bertajuk " Coding Mum" yang menyasar para Tenaga Kerja Indonesia ( TKI) di luar negeri.

Rangkaian program dilaksanakan di Singapura, Johor, Kuala Lumpur, Madinah, Taiwan, Hongkong. Sejauh ini, pelatihannya baru dijalankan di Singapura untuk satu batch yang berisi 10 TKI peremupuan terpilih. Mereka dilatih selama dua bulan dalam delapan kali pertemuan.

Setia Darma, yakni orang Indonesia yang berdomisili di Singapura dan menjabat koordinator di IO Inspire, ditunjuk sebagai penanggungjawab. Pada KompasTekno, Setia menceritakan pengalamannya mengajar para TKI dari nol hingga akhirnya mampu mendesain halaman web.

"Awalnya saya skeptis, saya ragu mereka akan paham dengan pemrograman komputer yang rumit," kata Setia, Jumat (24/3/2017), usai pengumuman program "Coding Mum Merambah Luar Negeri", di Gedung Kementerian Ketenagakerjaan, Jakarta.

Semangat yang lebih membara

Setia pun tak menampik bahwa ia dan timnya mengalami kesulitan dalam mengajar para TKI yang berumur antara 25 tahun hingga pertengahan 30-an. Namun, ia merasakan energi dan semangat menggebu-gebu dari para buruh yang jauh dari keluarga.

"Mereka semangatnya luar biasa, bahkan lebih membara ketimbang para murid non-TKI. Padahal kalau mau dipikir-pikir, pertemuan seminggu sekali itu memangkas habis waktu libur mereka," Setia menuturkan.

Para TKI di Singapura memiliki hak libur alias day-off satu hari dalam seminggu untuk istirahat penuh atau jalan-jalan. Namun, para TKI yang ikut Coding Mum harus merelakan satu hari yang berharga itu untuk menimba ilmu.

Tiap pertemuan, para TKI akan diberikan tugas rumah. Setia bercerita bahwa para TKI sangat antusias mengerjakan tugas mereka.

"Mereka bilang, tugas dikerjakan malam-malam sehabis kerja. Kadang para TKI juga suka pamer tugasnya ke majikan mereka. Bahkan ada majikan yang minta diajarkan cara programming ke salah satu TKI," kata Setia sembari tertawa.

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X