BrandzView
Konten ini merupakan kerja sama Kompas.com dengan OPPO

"Group Selfie", Makin Ribet Ternyata Makin Diminati!

Kompas.com - 13/04/2017, 08:09 WIB
Ilustrasi group selfie thinkstock/gpointstudioIlustrasi group selfie
|
EditorLatief


KOMPAS.com – Sejak dua tahun belakangan, group selfie atau swafoto berisikan dua orang atau lebih semakin diminati masyarakat. Padahal, praktiknya tidaklah sesimpel selfie diri sendiri. Semakin banyak orang yang terlibat, kian bertambah pula hal-hal yang harus diatur dan disesuaikan.

Ditilik sejarahnya, group selfie mulai marak dilakukan sejak 2014. Tren ini dimulai oleh beberapa tokoh internasional.

Misalnya, saat mantan Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama berfoto dengan mantan Wakil Presiden AS Joe Biden. Lalu, pembawa acara Jimmy Kimmel dengan keluarga mantan Presiden AS Bill Clinton.

Foto-foto tersebut cukup viral di media sosial. Foto Obama dan Joe Biden, misalnya, mendapat 30.000-an lebih likes di Instagram. Sementara itu, group selfie Jimmy Kimmel di-retweet oleh sekitar 12.000 pengguna Twitter.

Sejak itu, masyarakat umum pun mulai ikut memamerkan group selfie, termasuk di Indonesia.

Fotografer Rio Wibowo atau biasa dikenal sebagai Rio Motret pun merasakan perkembangan tren tersebut di Jakarta. Jika mengunjungi sebuah tempat baru, dia sering melihat orang-orang tidak lagi melakukan swafoto sendirian.

" Group selfie menjamur banget. Bisa dilihat di tempat-tempat baru di Jakarta. Orang datang bersama rombongan lalu swafoto bareng-bareng," ujar Rio, saat ditemui Kompas.com, Kamis (23/3/2017).

Salah satu alasan group selfie digandrungi masyarakat adalah adanya nilai sosial yang terkandung di dalamnya. Michal Ann Strahilevitz, seorang profesor bidang marketing di Golden Gate University memberikan pandangannya mengenai hal ini.

Dok Oppo Indonesia Oppo Selfie Experts, Marshall Sastra, Ayu Gani, dan Rio Motret melakukan group selfie bersama perwakilan Oppo Indonesia di acara peluncuran Oppo F3 Plus, Kamis (23/3/2017), di Hotel Fairmont Jakarta

"Group selfie lebih menekankan pada hubungan interpersonal ketimbang penampilan diri sendiri," ucap Strahilevitz seperti dikutip stuff.co.nz, Senin (31/7/2014).

Tantangan

Namun, karena mengikutsertakan banyak orang di dalamnya, mengambil group selfie yang ciamik pun memiliki tantangan tersendiri. Misalnya, para peserta foto sulit mendapat posisi yang ideal.

Menurut Senior Beauty Editor situs web Style Caster, Alle Connell, salah satu hal yang bisa dilakukan untuk menyiasatinya adalah menunjuk seseorang sebagai "sutradara". Dia bertugas menempatkan para peserta foto di posisi yang pas hingga semuanya kedapatan masuk frame.

Kendala lain yang biasa terjadi adalah cahaya tidak menyoroti para peserta group selfie secara merata. Akibatnya, sebagian orang terlihat terang, sedangkan peserta lainnya nampak gelap.

Saran dari Connell, pastikan cahaya berasal dari depan para peserta foto, bukan dari samping atau belakang.

"Cara ini memastikan semua orang mendapatkan cahaya secara merata," kata dia.

Agar hasil group selfie semakin maksimal, pemilihan latar belakang yang tepat pun penting untuk diperhatikan. Jika berfoto di dalam ruangan, sebisa mungkin pilih tembok putih sebagai background.

"Tembok putih membuat wajah semua peserta foto terlihat lebih cerah, apapun warna kulitnya," ujar Connell.

Seperti Connell, pengarang buku The Selfie Guide, Carrie Barclay, juga mengutarakan mengenai pentingnya pemilihan latar belakang foto. Menurutnya, latar belakang harus juga disesuaikan dengan konteks pengambilan gambar.

thinkstock/william87 Ilustrasi group selfie

"Jika di acara wisuda, jadikan bangunan sekolah sebagai background. Bila sedang liburan, manfaatkan pemandangan alam untuk jadi latar belakang foto. Elemen-elemen tersebut dapat membuat group selfie terlihat lebih hidup," ucap Barclay, seperti dikutip cocacola.uk, Selasa (21/7/2015).

Aspek lain yang juga tak kalah penting untuk dipersiapkan adalah peranti pendukung. Selama ini, selfie stick atau tongkat narsis (tongsis) dibutuhkan untuk membantu mengambil group selfie agar dapat menangkap semua obyek.

Namun, seiring perkembangan teknologi, mengambil group selfie kini cukup dengan kamera ponsel saja. Oppo F3 Plus, misalnya, telah dilengkapi kamera depan dengan sudut lebar 120 derajat sehingga mampu menangkap gambar 105 persen lebih luas daripada kamera ponsel pada umumnya.

"Fasilitas tersebut sangat menunjang group selfie. Selain obyek (orang), latar belakang dan suasana tempat pun dapat tertangkap dengan jelas dalam foto," timpal Rio Motret.

Selain wide lens beresolusi delapan megapiksel yang bisa dipakai saat group selfie, ponsel tersebut juga dilengkapi satu kamera lagi beresolusi 16 megapiksel untuk mengambil selfie seorang diri. Dengan fitur smart facial recognition, kamera akan secara otomatis memberitahu pengguna untuk pindah ke mode yang tepat.

Tak hanya itu, handphone tersebut juga didukung dengan baterai tanam 4.000 mAh sehingga memiliki daya tahan lebih lama. Lagi pula, saat baterai habis, fasilitas VOOC Flash Charge yang tersemat memungkinkan pengisian baterai hingga 75 persen dalam waktu lebih kurang 30 menit.

Pengguna pun tak perlu khawatir akan kehilangan momen saat akan melakukan group selfie karena baterai habis.

Jadi, sudah siap menjadi bagian dari tren group selfie?


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya