Kompas.com - 27/04/2017, 20:00 WIB
Penulis Tim Cek Fakta
|
EditorTim Cek Fakta

KOMPAS.com - Berawal dari kecintaan pada camilan tradisional cimol asal Bandung, tiga mahasiswa asal Institut Teknologi Bandung (ITB) mengukuhkan diri sebagai "Tim Cimol".

Mereka adalah Adinda Budi Kusuma Putra, Feryandi Nurdiantoro, dan Tifani Warnito, yang sedang menjalani studi S-1 Teknik Informatika.

Kolektivitas mereka didasari keresahan yang sama akan maraknya berita palsu alias hoax di internet. Saat Pilkada DKI Jakarta putaran pertama, misalnya, ketiga mahasiswa tersebut melihat linimasa jejaring sosial didominasi informasi yang cenderung ofensif dan tak jarang masuk ke kategori hoax.

Mereka pun tambah semangat mencarikan solusi dan mengembangkan sebuah alat pendeteksi hoax yang dinamai "Hoax Analyzer" dengan dimentori sang dosen, Ayu Purwarianti.

Hoax Analyzer berbentuk web application, dengan pengguna bisa memasukkan informasi apa saja dari internet, baik teks maupun gambar, untuk kemudian diidentifikasi apakah konten itu hoax atau fakta.

Layanan semacam ini memang belum banyak tersedia, padahal dampak buruk hoax dinilai cukup signifikan. Contohnya ketika orang A menyerap informasi hoax tertentu dari aplikasi chat atau media sosial, lantas serta-merta membagikannya ke kerabat dan keluarga tanpa mengecek kebenarannya.

Tampilan web application Hoax Analyzerhoaxanalyzer.com Tampilan web application Hoax Analyzer
Alhasil, hoax itu menyebar luas dan bisa menimbulkan kesalahan persepsi, bahkan lebih buruk dapat memicu kebencian dan perpecahan. Tim Cimol bercita-cita agar netizen Tanah Air bisa lebih kritis terhadap informasi yang didapat dari internet.

"Cimol merupakan camilan yang disukai banyak orang dan kami berharap produk yang dihasilkan tim kami juga disukai dan bermanfaat bagi khalayak luas," kata mereka melalui e-mail kepada KompasTekno, Rabu (26/4/2017).

Memanfaatkan teknologi yang dikembangkan Microsoft

Dalam proses menggodok Hoax Analyzer, Tim Cimol mengalami kesulitan, terutama ketika mencari referensi mengenai teknologi untuk mengembangkan aplikasi tersebut. Pasalnya, isu hoax dirasa cukup kompleks.

Setelah mencari dan mencoba berbagai alternatif teknologi, Tim Cimol akhirnya memutuskan untuk menggunakan tool yang dikembangkan Microsoft, yakni machine learning dan Natural Language Processing (NLP).

Baca: Aplikasi Anti-hoax Buatan Bandung Wakili Indonesia di ASEAN

HOAKS ATAU FAKTA?

Jika Anda mengetahui ada berita viral yang hoaks atau fakta, silakan klik tombol laporkan hoaks di bawah ini

closeLaporkan Hoaks checkCek Fakta Lain
Berkat konsistensinya, Kompas.com menjadi salah satu dari 49 Lembaga di seluruh dunia yang mendapatkan sertifikasi dari jaringan internasional penguji fakta (IFCN - International Fact-Checking Network). Jika pembaca menemukan Kompas.com melanggar Kode Prinsip IFCN, pembaca dapat menginformasikannya kepada IFCN melalui tombol di bawah ini.
Laporkan
Halaman Selanjutnya
Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.