Android Lebih Gampang Dibobol daripada iPhone, Benarkah?

Kompas.com - 08/05/2017, 11:52 WIB
Patung Android Marshmallow di kantor pusat Google, Mountain View, California. Wicak Hidayat/KompasTeknoPatung Android Marshmallow di kantor pusat Google, Mountain View, California.
|
EditorReska K. Nistanto

KOMPAS.com - Android merupakan sistem operasi terbesar saat ini dengan 1,4 miliar pengguna. Ini berkat sifat keterbukaannya alias open source, sehingga fleksibel digunakan berbagai vendor perangkat mobile.

Meski demikian, ada dampak buruk dari keterbukaan Android, yakni keamanan yang tak terstandarisasi. Tiap ponsel Android memiliki jadwal update berbeda-beda, kadang rutin kadang tidak.

Alhasil, banyak celah keamanan yang ditemukan yang berpotensi untuk dibobol. Penyebaran malware menjadi masif beberapa tahun terakhir. Lantas, benarkah Android benar-benar lebih mudah dibobol alias diretas (di-hack) ketimbang sistem operasi mobile lain?

Menurut Director of Android Security, Adrian Ludwig, ada kesalahan persepsi yang menyebar di masyarakat luas, yang semata-mata merujuk pada banyaknya malware bermunculan di sistem operasi Android.

Padahal, ia mengklaim Android telah ditingkatkan keamanannya secara signifikan dari masa ke masa.

“Dari kriptografi dan sandboxing yang kami tingkatkan, eksploitasi OS Android semakin sulit,” kata dia, sebagaimana dilaporkan DigitalTrends dan dihimpun KompasTekno, Senin (8/5/2017).

Sederhananya, Ludwig mengatakan bahwa ponsel Android yang sering di-update dijamin aman. Masalahnya, otoritas untuk pembaruan sistem operasi itu ada di tangan vendor.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Makin lawas, makin bahaya

Menurut tim Android, setengah dari total penggunanya tak menerima update Android selama satu tahun. Hal ini berisiko, sebab tiap pembaruan memberikan amunisi baru pada ponsel agar tak gampang dieksploitasi.

“Terkhusus untuk Android versi lama, ada banyak celah yang muncul. Kebanyakan vendor tak menyuplai update untuk perangkat mereka. Saat ini lebih dari 800 celah yang dikenali,” kata CEO AV-Test, Maik Morgenstern. AV-Test adalah organisasi yang memberikan peringkat untuk antivirus.

Oik Yusuf/ KOMPAS.com Tampak depan Cooldpad Cool Dual varian warna gold. Sistem operasi yang dijalankan adalah Android Marshmallow. Tiga tombol navigasi home, recent apps, dan back berupa softbutton di bingkai (bezel) di bawah layar.
Jika dijabarkan, pada April 2017, hanya 4,9 persen dari ponsel Android yang sudah memakai versi Nougat 7.0 atau 7.1 teranyar.

Jumlah itu tak bisa dibilang besar. Sementara itu, versi yang lebih lawas yakni Marshmallow 6.0 digunakan 31,2 persen. Sebanyak 31 persen masih betah dengan versi Lollipop 5.0 dan 5.1. Sisanya menggunakan Android KitKat 4.4 hingga yang lebih lawas.

“84 persen ponsel Android tak diperbarui. Artinya, hampir semua perangkat Android berisiko,” kata Vice President dari divisi Platform Research and Exploitation di Zimperium, Joshua J. Drake.

Zimperium merupakan perusahaan keamanan mobile. Drake sendiri menemukan celah bernama “Stagefright” di Android pada 2015 lalu. Celah itu memberikan akses pada peretas untuk mengontrol perangkat Android dari kode berbahaya pada file audio dan video.

Baca: Bug Paling Berbahaya Ancam 500 Juta Perangkat Android

Hampir 95 persen perangkat Android berisiko diserang Stagefright kala itu. Namun, setelah diperbaiki oleh tim Android dan dirilis sistem operasi baru, kini tak sampai 1 persen yang masih berisiko atas Stagefright.

iOS lebih aman?

Masalah fragmentasi pada Android karena keterbukaannya memang sulit teratasi. Mendorong vendor untuk menyediakan pembaruan sistem operasi secara berkala nyatanya belum efektif.

Hal ini yang kemudian membuat netizen menobatkan iOS sebagai sistem operasi yang aman, sebab bersifat tertutup hanya untuk perangkat buatan Apple. Hal ini kemudian dibantah Drake.

“Ada kesan bahwa keamanan iOS lebih baik dari Android. Tapi ini tak semata-mata benar juga,” kata dia.

Deliusno/Kompas.com Laurencia Santoso menjadi pembeli iPhone 7 pertama di gerai iBox Central Park Jakarta, Jumat (31/3/2017).
Drake menjelaskan bahwa keterbukaan Android membuat para peneliti lebih mudah mengidentifikasi celah dan memberikan solusi. Sementara itu, iOS yang lebih tertutup membuat peneliti sulit mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

Morgenstern sepakat dengan poin tersebut. Meski demikian, Morgenstern mengindikasikan Android lebih berisiko karena prinsipnya benar-benar berbeda dengan iOS.

“Pengguna Android mudah menginstal aplikasi dari sumber mana saja. Fakta ini membuat aplikasi berbahaya dengan mudah masuk ke perangkat. iOS lebih ketat dalam hal ini, sehingga risikonya juga semestinya lebih kecil,” kata Morgenstern.

Sekali lagi, salah satu cara untuk meningkatkan keamanan Android adalah rajin memperbaruinya. Namun, hingga kini belum jelas kapan semua perangkat Android disematkan versi Nougat.

“Kita semua masih dalam risiko hingga update menjangkau semua perangkat Android,” ujar Morgenstern.

Baca: iPhone Lebih Stabil dari Android, Benarkah?



Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X