Kompas.com - 23/05/2017, 13:45 WIB
EditorReza Wahyudi

KOMPAS.com - Facebook terungkap tidak langsung menghapus informasi yang mengandung kekerasan atau kebencian yang diunggah penggunanya. Fakta mengejutkan tersebut terungkap dari dokumen rahasia yang bocor dan diungkap ke publik.

Adalah harian terkemuka Inggris The Guardian yang mendapat "lebih dari 100 pedoman pelatihan internal, spreadsheet, dan diagram alur" milik Facebook yang sejatinya hanya untuk internal perusahaan.

Isi dokumen rahasia tersebut membeberkan cara raksasa media sosial itu menyensor atau memutuskan materi apa yang boleh dan tidak boleh diunggah.

Termasuk di dalamnya, video livestreaming bunuh diri yang baru-baru ini terjadi Indonesia. (Baca: Video Gantung Diri di Jagakarsa Akhirnya Dihapus Facebook)

Bocoran dokumen tersebut merupakan hasil investigasi The Guardian yang disiarkan dalam laman harian ini pada edisi Senin, (22/5/2017).

"Aturan-aturan dan pedoman-pedoman rahasia Facebook untuk menentukan apa yang boleh di-posting dua miliar penggunanya di situs itu untuk pertama kalinya tersingkapkan oleh penyelidikan Guardian yang akan memicu debat global mengenai peran dan etika raksasa media sosial itu," tulis The Guardian dalam laporan utamanya, seperti dikutip dari Antara.

Guardian mengaku telah melihat dan mempelajari 100 manual pelatihan internal, spreadsheet dan bagan atau flowchart yang digunakan Facebook untuk memoderasi masalah-masalah seperti kekerasan, ujaran kebencian, pornografi, rasisme, dan bunuh diri.

Bahkan ada pedoman mengenai pengaturan hasil pertandingan dan kanibalisme.

Facebook Files itu mengungkapkan kode-kode dan aturan-aturan yang dibuat situs tersebut yang saat ini tengah menghadapi tekanan hebat di Eropa dan AS.

Rangkaian aturan dan pedoman yang dibongkar The Guardian itu melukiskan kesulitan-kesulitan yang dihadapi para eksekutif pengelola Facebook dalam merespons tantangan-tantangan baru seperti "pornografi balas dendam" (konten porno yang diposting atas tujuan mencemarkan pihak-pihak tertentu).

Dari investigasi The Guardian juga terungkap skala raksasa kerja pada moderator Facebook sehingga mereka hanya punya waktu 10 detik untuk memutuskan moderasi konten.

Baca: Facebook Butuh 2 Minggu Hapus Video Bunuh Diri

Dokumen lainnya menyebutkan Facebook mengkaji kembali 6,5 juta laporan setiap pekan yang berkaitan dengan akun-akun palsu yang terkenal dengan istilah FNRP (fake, not real person atau 'palsu, bukan orang sebenarnya').

Dengan menggunakan ribuan slide dan foto, Facebook membuat pedoman yang mungkin saja membuat khawatir orang yang sekarang sudah kadung menyebut Facebook tak ubahnya media massa konvensional yang dituntut menghapus konten kebencian, merusak dan kekerasan.

Namun tetap saja cetak biru ini bisa mengusik para pembela kebebasan berpendapat yang mulai mengkhawatirkan beralihnya peran Facebook sebagai lembaga sensor terbesar di dunia.

Di antara fakta mencengangkan dan pedoman-pedoman rahasia yang disingkapkan oleh The Guardian itu adalah:

1. Facebook mengkaji kembali sekitar 6,5 juta laporan setiap pekan, yang berkaitan dengan akun-akun palsu.

2. Video kekerasan berujung kematian dalam Facebook memang ditandai sebagai konten yang mengganggu, namun ternyata tidak selalu berujung dengan penghapusan karena konten-konten ini dalam satu sisi dianggap membantu menciptakan kepedulian terhadap masalah-masalah seperti sakit jiwa.

3. Beberapa foto kekerasan fisik non-seksual dalam Facebook dan foto bullying anak-anak tidak dihapus atau tidak ditandai oleh Facebook sampai ditemukan ada unsur sadistis dan perayaan.

4. Facebook menggunakan software untuk mencegat konten-konten ofensif sebelum masuk situs media sosial ini.

5. Facebook membiarkan pengguna livestream video kekerasan (bunuh diri) karena media sosial raksasa ini tidak ingin menyensor atau menghukum orang hanya karena orang ini mengalami tekanan jiwa.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.