Kompas.com - 06/06/2017, 15:34 WIB
Indosat resmi berubah nama menjadi Indosat Ooredoo sejak Kamis (19/11/2015). Reska K. Nistanto/KOMPAS.comIndosat resmi berubah nama menjadi Indosat Ooredoo sejak Kamis (19/11/2015).
|
EditorReza Wahyudi

Indosat Ooredoo sendiri pada Selasa (6/6/2017), memuat pernyataan sikapnya terkait masalah ini di situs resmi perusahaan.

Menurut Indosat Ooredoo, perusahaan menghargai hak setiap pegawai dalam berpendapat, maupun menyalurkan aspirasi politik.

Setiap pendapat pribadi dan aspirasi politik pegawai, merupakan tanggung jawab dan hak pribadi masing-masing, termasuk pengungkapan dan penyebarannya di sosial media.

"Namun patut diketahui bahwa hal tersebut harus sesuai dengan etika, peraturan dan perundangan yang berlaku serta mendukung persatuan masyarakat dan berbangsa," demikian kata Indosat Ooredoo.

Mereka menambahkan, penyampaian pendapat dan aspirasi politik oleh pegawai Indosat Ooredoo di sosial media, merupakan hak dan tanggung jawab individu bersangkutan, serta tidak ada kaitannya dengan sikap perusahaan.

"Indosat Ooredoo memiliki mekanisme internal yang secara tegas menghimbau seluruh pegawai agar senantiasa bijak dalam menggunakan sosial media," kata Indosat Ooredoo.

Pelajaran

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Lantas, pelajaran apa yang bisa kita petik dari kasus Indosat Ooredoo ini? Pertama, seperti yang berkali-kali dikatakan oleh Direktur Eksekutif ICT Watch, Donny B.U, menyampaikan pendapat di media sosial itu harus berfikir sebelum mengunggah tulisan.

"Karena orang kan mentang-mentang pakai media sosial, gadget, lalu seolah tidak berhadapan langsung dengan yang bersangkutan. Merasa tidak ada konsekuensi,” ujarnya kepada KompasTekno beberapa waktu yang lalu.

Donny juga mengatakan agar pengguna media sosial membayangkan mengucapkan statusnya itu secara langsung di hadapan publik sebelum mem-postingnya, apakah ada manfaatnya atau tidak.

Di samping itu, perlu diingat juga agar tidak terlalu mengumbar informasi berlebih di media sosial. Informasi seperti pekerjaan dan kantor tempat bekerja juga bisa menjadi penilaian khalayak publik, tentang perilaku seseorang di media sosial.

Dan bagi pihak internal perusahaan sebisa mungkin menjaga rahasia perusahaan agar kasus-kasus seperti ini tidak menjadi perbincangan publik. Terkadang percakapan "rahasia" hanya untuk teman dekat yang diminta untuk tidak disebar justru menjadi rahasia umum dan akhirnya sampai ke pesohor media sosial.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.