Lagi, Mark Zuckerberg Tak Hadiri Rapat Besar Bersama Donald Trump

Kompas.com - 20/06/2017, 08:53 WIB
Mark Zuckerberg memberikan sambutan dalam upacara wisuda ke-366 Universitas Harvard pada Kamis (25/5/2017). Paul Marotta / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / AFP Mark Zuckerberg memberikan sambutan dalam upacara wisuda ke-366 Universitas Harvard pada Kamis (25/5/2017).
|
EditorDeliusno

KOMPAS.com - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, lagi-lagi menggelar rapat besar dengan para petinggi perusahaan teknologi kawakan. Rapat yang digelar pada Senin (19/6/2017) kemarin membahas rencana modernisasi pemerintah ke depan.

Di antara jejeran wajah yang hadir, tak tampak batang hidung CEO Facebook, Mark Zuckerberg. Bahkan ia tak diwakili sang COO, Sheryl Sandberg.

Menurut juru bicara Facebook, Zuckerberg dan Sandberg absen dari rapat bersama Trump dikarenakan jadwal mereka bentrok, sebagaimana dihimpun KompasTekno, Selasa (20/6/2017).

Sandberg memang diketahui sedang berada di Perancis untuk menghadiri festival periklanan terbesar, Cannes Lions. Sementara itu, tak diketahui apa jadwal yang menghalangi Zuckerberg untuk menghadiri undangan Trump.

Memang, Zuckerberg bakal menjadi pembicara di acara Facebook pada Kamis depan. Acara itu masih empat hari dari hari rapat dengan Trump, namun mungkin Zuckerberg sibuk mempersiapkan keynote-nya.

Ketidakhadiran Zuckerberg ini adalah yang kedua kalinya dari dua kali rapat besar bersama kepala perusahaan teknologi yang diadakan Trump. Sebelumnya, pada Desember 2016  lalu, rapat bersama Trump diwakili Sandberg.

Ada 18 CEO dan pejabat perusahaan teknologi yang hadir di rapat Senin kemarin. Antara lain CEO Apple, Tim Cook; CEO MasterCard, Ajay Banga; CEO Intel; Brian Krzanich; CEO Akamai Tom Leighton; CEO Microsoft, Satya Nadella; CEO Qualcomm, Steven Mollenkopf; CEO IBM, Ginni Rometty; Presiden Direktur Alphabet, Eric Schmidt; dan CEO Adobe, Shantanu Narayen.

Adapun modernisasi yang difokuskan Trump merujuk pada pembaruan sistem TI pemerintah, dengan tujuan memangkas biaya operasional, meningkatkan efektivitas dan efisiensi kerja, serta memperbaiki layanan publik. Menurut Trump, negara bisa menghemat pengeluaran hingga 1 triliun dollar AS atau setara Rp 13.300 triliun dalam 10 tahun dengan meningkatkan modernitas sistem teknologi.

"Pemerintah butuh revolusi teknologi," ujar Trump.

Baca: Bos Teknologi dan Donald Trump, Dulu Saling Sindir Kini Saling Puji

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X