kolom

Memahami Keputusan Pilot yang Batalkan Pendaratan di Bandara Soetta

Kompas.com - 22/06/2017, 15:07 WIB
Pesawat Garuda Indonesia sedang push back di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Kamis (12/5/2016). KOMPAS.com/ANDRI DONNAL PUTERAPesawat Garuda Indonesia sedang push back di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Kamis (12/5/2016).
Editor Deliusno

Catatan seorang penumpang pesawat Garuda Indonesia GA425 di media sosial, soal manuver go-around yang dilakukan pilot saat hendak mendarat di bandara Soekarno-Hatta pada Minggu (18/6/2017) lalu, viral dan jadi bahan perbincangan yang hangat di tengah pelaku industri penerbangan.

Setidaknya, ada dua catatan yang ingin saya sampaikan soal fenomena ini, yakni soal manuver go-around itu sendiri dan fenomena membagi "pengalaman tak menyenangkan" saat terbang tanpa informasi yang komprehensif.

Pertama soal go-around. Seperti tersurat dari namanya, go-around adalah manuver untuk memutar kembali yang dilakukan oleh pilot saat hendak mendarat di suatu landasan. Manuver ini aman, pilot dilatih untuk melakukannya.

Mengapa harus melakukan go-around? Banyak alasan yang membuat pilot memutuskan melakukan go-around, seperti approach (fase mendekat ke landasan) yang tidak stabil, bisa jadi kurang lurus dengan landasan, pesawat terlalu tinggi/rendah, windshear (faktor cuaca), wake turbulence dari pesawat di depannya, masalah teknis, dan sebagainya.

Baca: Pesawat Qatar Dilarang ke Arab Saudi, Nasib Penumpang Indonesia?

Bisa pula disebabkan oleh masih adanya traffic (pesawat lain) yang berada di landasan. Alasan terakhir inilah yang spesifik ingin saya bahas di sini.

Pihak ATC bandara Soekarno-Hatta sendiri telah menjelaskan, sejatinya go-around yang dilakukan oleh GA425 diakibatkan oleh pesawat Sriwijaya Air SJ580 yang membatalkan proses takeoff.

Karena batal takeoff, maka SJ580 butuh waktu lebih lama di runway untuk keluar landasan. GA425 yang sudah mengantre mendarat di belakang SJ580 yang hendak takeoff, harus memutar sekali lagi karena runway belum kosong.

Semua itu dilakukan dengan komunikasi penuh dan koordinasi antara pilot GA425, SJ580, dan pihak ATC bandara Soekarno-Hatta. Pilot SJ580 menginformasikan membatalkan takeoff, ATC memberi instruksi, dan pilot GA425 melakukan manuver go-around.

Anda bisa membaca penjelasan Corporate Secretary AirNav Indonesia, Didiet KS Radityo, di tautan berita berikut ini.

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Baca tentang
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X