Google Mulai Monitor Konten YouTube di Indonesia

Kompas.com - 04/08/2017, 17:42 WIB
|
EditorDeliusno

JAKARTA, KOMPAS.com - Google menyetujui permintaan pemerintah Indonesia, dalam hal ini Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo), untuk menyaring atau memonitor berbagai konten negatif dan melanggar aturan di Tanah Air. Layanan yang bakal terkena sensor tersebut adalah YouTube.

Hal itu terungkap hari ini, Jumat (4/8/2017), usai Menkominfo Rudiantara, bertemu dengan perwakilan Google dan Twitter Asia Pasifik. Pertemuan itu memang membahas cara penanganan konten-konten negatif yang selama ini berseliweran di media sosial.

Di hadapan awak media, Rudiantara mengatakan bahwa Google telah sepakat menerapkan sistem trusted flagger. Sistem tersebut merupakan salah satu cara untuk melaporkan dan memberantas berbagai konten negatif, radikal, dan terorisme yang muncul di YouTube.

“Kami membahas bagaimana meningkatkan service level dalam penanganan konten negatif di platform milik Google, salah satunya YouTube. Dulu prosesnya masih memakai email laporan, tapi sejak akhir Juli tahun ini sudah mulai memakai sistem trusted flagger,” kata Rudiantara di hadapan awak media.

Metode trusted flagger tersebut rencananya bakal diterapkan di YouTube dan media sosial Google lainnya. Sedangkan layanan Google Search, yang merupakan alat penjelajah internet, belum bisa memakai metode trusted flagger.

Baru tersedia di Indonesia

Ann Lavin mengatakan bahwa metode trusted flagger sebenarnya bakal tersedia secara global. Saat ini baru Indonesia saja yang mendapatkan akses tersebut.

“Setiap flag yang dilakukan setiap konsumen akan dianalisis. Kami kerja bersama kementerian untuk melatih apakah flagger benar dalam memberikan laporan, selain itu ada juga local expertise yang memahami konten,” ujarnya.

“Banyak konten yang menyebarkan ujaran kebencian, dan banyak hal negatif. Karena itu kami mengajak pengguna untuk melaporkannya,” imbuh Ann Lavin.

Selain trusted flagger, pemerintah bersama Google dan Twitter juga bekerja sama untuk mempermudah laporan langsung melalui jalur khusus, seperti e-mail. Metode ini bisa digunakan untuk konten-konten yang dianggap tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan Indonesia, tetapi tidak menyalahi aturan standar komunitas masing-masing platform.

“Contohnya pornografi, kalau di AS dan Indonesia kan beda. di sana mungkin hanya child porn yang dilarang. maka kalau seperti itu akan dilaporkan melalui jalur khusus, bukan trusted flagger,” tutur Dirjen Aplikasi Informatika, Kemenkominfo, Semuel Abrijani Pangarepan.

“Kalau radikalisme atau terorisme berbeda, akan langsung di take down karena memang secara global tidak sesuai dengan standar,” imbuhnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.