Soup N Film, "Surga" Anak Muda Pehobi Kamera Film

Kompas.com - 15/08/2017, 20:11 WIB
Aktivitas pekerja saat pencetakan foto hasil dari pemotretan kamera analog di Toko Soup N Film, Jakarta, Kamis (3/8/2017). KOMPAS.com / ANDREAS LUKAS ALTOBAktivitas pekerja saat pencetakan foto hasil dari pemotretan kamera analog di Toko Soup N Film, Jakarta, Kamis (3/8/2017).
|
EditorReska K. Nistanto

JAKARTA, KOMPAS.com - Kembalinya tren kamera film tak ubahnya oase di tengah kecanggihan teknologi yang serba instan. Menurut Azmi Mudhoffar (25), bermain kamera film adalah melatih kesabaran, belajar menikmati proses panjang, serta menghargai hasil.

Sebelum menjepret, pehobi kamera film harus memilih roll film sesuai kebutuhan. Setelah menjepret pun masih ada proses cuci foto dan menunggu hasilnya. Perkara cuci foto, kata Azmi, tak boleh sembarangan.

Fotografer freelance yang mulai menekuni kamera film sejak setahun terakhir ini rela bolak-balik dari kota domisilinya di Malang ke Jakarta hanya untuk mencuci foto.

“Saya selalu cuci foto di Soup n Film di STC Senayan. Cuma di sana menurut saya yang hasil cucinya berkualitas. Kalau di Malang belum ketemu,” katanya kepada KompasTekno beberapa saat lalu.

Baca: Cerita Tompi Jatuh Hati kepada Kamera Film

Hal serupa diungkapkan Fikri Awan (23), lulusan FISIP UI yang juga gemar menjepret dengan kamera film. “Kalau cuci foto selalu di Soup n Film sih,” ujarnya.

KompasTekno lantas bertandang ke outlet Soup n Film di STC Senayan, lantai 1 No 16, yang digadang-gadang jadi "surga"-nya para pehobi kamera film. Di outlet berukuran sekitar 3x3 meter itu, tak kurang dari 100 orang datang untuk mencuci roll film setiap harinya.

“Rata-rata yang main kamera film anak muda sih. Anak-anak keren lah yang senang vintage,” kata salah satu pendiri Soup n Film, yang sekaligus dikenal sebagai penyanyi dan dokter spesialis bedah plastik, Teuku Adifitrian atau yang lebih tenar dipanggil Tompi.

Digawangi 4 sekawan

Soup n Film sendiri lahir dari kesamaan hobi empat sekawan, yakni Tompi, Jerry Surya, Perry Margono, dan Erwin Kindangen. Belakangan posisi Erwin digantikan Aryo karena ada kesibukan lain.

“Kami nggak ada yang pure kerja di Soup n Film. Masing-masing punya bisnis dan kerjaan yang juga cukup sibuk juga sebenarnya,” Tompi menuturkan.

Penyanyi Tompi berpose usai pemotretan di Studionya Jalan Pakubuwono, Jakarta Selatan, Rabu (2/8/2017).KOMPAS.com / ANDREAS LUKAS ALTOB Penyanyi Tompi berpose usai pemotretan di Studionya Jalan Pakubuwono, Jakarta Selatan, Rabu (2/8/2017).

Niat membuat usaha cuci film pun bukan didasari keinginan berbisnis. Tompi bercerita ketika pertama kali bermain kamera film sekitar tiga tahun lalu, ia kesulitan mencari laboratorium cuci foto.

“Di Jakarta waktu itu jarang banget. Ternyata beberapa teman saya yang main film nyuci sendiri. Kebanyakan cuci black and white, nggak ada yang cuci color karena memang lebih sulit,” ia menjelaskan.

Berangkat dari kelangkaan itu, Tompi penasaran dan belajar mencuci roll film secara otodidak. Ia juga kerap bertanya dengan teman-teman yang lebih dulu menggeluti hobi kamera film.

“Akhirnya saya, Jerry, Erwin, Perry, duduk berempat lalu sama-sama ‘kita bikin lab yuk’, gitu,” Tompi mencontohkan. Soup N Film akhirnya beroperasi secara online sejak 2016 dan mulai dibuka outlet fisiknya di STC Senayan pada awal 2017.

Keempat pendiri Soup n Film itu memiliki metode dan pengalaman masing-masing dalam mencuci film. Setelah digabungkan, akhirnya mereka menemukan pola yang stabil dan terstandardisasi untuk mencetak foto black and white.

Tak puas sampai di situ, keempat founder Soup n Film mulai belajar mencuci roll film untuk warna. Lagi-lagi proses belajarnya berbasis eksperimen secara otodidak dan akhirnya bisa menemui pola yang stabil.

Selanjutnya, Tompi dkk juga belajar mengerjakan film slide atau biasa juga disebut film positif. Tompi mengklaim pengerjaan film slide sudah sangat jarang ditemui saat ini.


Umumnya yang digunakan masyarakat adalah film negatif, di mana roll film dicuci untuk mendapatkan negatifnya. Negatif itu di-invert untuk mendapatkan warnanya.

Berbeda dengan film positif yang pemakaiannya lebih ke kalangan fotografer profesional, hasil yang didapatkan adalah film yang bisa langsung dilihat tanpa perlu di-invert.

“Nah, sekarang di lab Soup N Film itu lengkap untuk processing film mulai dari develop film black and white, color, slide, sampai ke cetaknya kami bisa,” Tompi menjelaskan.

Bukan untuk memperkaya diri

Lebih dari setahun pasca Soup N Film pertama kali berdiri, bisnis yang menyasar segmented market tersebut semakin digandrungi. Bukan tanpa alasan anak muda pehobi kamera film banyak yang bertandang ke Soup N Film.

Tompi mengklaim tokonya tersebut memberikan kualitas di atas rata-rata dengan harga ramah kantong, baik untuk jenis film yang dijual maupun ongkos cucinya.

“Saat ini yang jualan film termurah ya Soup N Film. Waktu kami berempat bikin Soup N Film semangatnya satu yaitu untuk dapat film murah buat kami sendiri,” ia menjelaskan.

Contoh film berbeda ukuran dan tipe dalam keadaan sudah dicuci (develop). Lembaran dengan frame berukuran paling besar di ujung kiri merupakan film medium format positif. Lembaran-lembaran dengan frame kecil berwarna di tengah adalah film 35mm positif, sementara tiga lembar film di ujung kanan yang berwarna kuning dan cokelat adalah film 35mm negatif.Fatimah Kartini Bohang/ KOMPAS.com Contoh film berbeda ukuran dan tipe dalam keadaan sudah dicuci (develop). Lembaran dengan frame berukuran paling besar di ujung kiri merupakan film medium format positif. Lembaran-lembaran dengan frame kecil berwarna di tengah adalah film 35mm positif, sementara tiga lembar film di ujung kanan yang berwarna kuning dan cokelat adalah film 35mm negatif.

Tompi bercerita dulu setiap kali ingin memotret dengan kamera film, ia dan teman-temannya harus belanja roll film di Singapura dengan harga mahal. Pada satu titik ia dan ketiga kawannya memutuskan untuk mendistribusikan roll film ke Indonesia.

Adapun jenis-jenis roll film yang dijual adalah yang lumrah digunakan para pehobi kamera film Tanah Air, baik berwarna maupun black and white. Ada beberapa permintaan untuk jenis roll film tertentu, namun karena tak ramai peminat maka belum dilayani.

“Kami masukin roll film langsung banyak sehingga harganya lebih murah. Kami ambil margin yang tipis karena tujuannya bukan memperkaya diri, tapi supaya orang banyak yang main film,” Tompi menuturkan.

Sama halnya pula dengan jasa cuci film yang ditawarkan. Tompi mengklaim sekali cuci roll film di luar negeri rata-rata memakan biaya Rp 200.000 hingga Rp 300.000-an. Sementara di Soup N Film rata-rata hanya Rp 100.000-an dengan bahan dan scanner yang sama.

Bedanya, rata-rata jasa cuci film di luar negeri menawarkan pengeditan oleh professional scanner sedangkan di Soup N Film tak ada pelayanan serupa. Ke depan, Tompi dkk berencana mengekspansi bisnis Soup N Film ke Bali dan beberapa kota lainnya.

“Biar temannya (yang main film) semakin banyak,” ia berujar.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X