"Tentara" Microsoft Jadi Penjaga Mobil F1 Renault

Kompas.com - 16/09/2017, 09:46 WIB
Assistant General Counsel & Regional Direktor Digital Crimes Unit Microsoft Asia, Keshav Dhakad, ketika memberikan penjelasan tentang Cyber Crime kepada media di kantor Microsoft Asia, Singapura, Singapura (15/9/2017). ALOYSIUS GONSAGA ANGI EBO/KOMPAS.comAssistant General Counsel & Regional Direktor Digital Crimes Unit Microsoft Asia, Keshav Dhakad, ketika memberikan penjelasan tentang Cyber Crime kepada media di kantor Microsoft Asia, Singapura, Singapura (15/9/2017).
|
EditorReza Wahyudi

KOMPAS.com - Microsoft membangun kepercayaan pengguna teknologi internet dengan memperkuat sistem keamanan. Maka muncullah Digital Crimes Unit (DCU) yang bertujuan memerangi kejahatan cyber.

Fokus kerja DCU meliputi perlindungan terhadap anak, termasuk pemberantasan malware (virus), pelecehan seksual terhadap anak melalui teknologi informasi, pelanggaran hak kekayaan intelektual, dan hak cipta.

"Tentara" Microsoft ini memberikan dampak sangat bagus bagi tim Formula 1, Renault, yang sudah menjalin kerja sama sejak 2012. Ada jaminan keamanan soal data yang diperoleh tim untuk pengembangan mobilnya dalam rangka menembus papan atas ajang F1.

"Kami yakin investasi yang Microsoft lakukan ini pasti lebih besar dari yang Renault lakukan. Saya yakin ini sangat membantu kami untuk mencegah sistem dari berbagai masalah yang timbul," ujar Chief information officer Renault Sport Racing, Pierre d'Imbleval, Jumat (15/9/2017), di kantor Microsoft Asia, Singapura.

Menurut Pierre, data merupakan segalanya dalam dunia F1 di mana dalam satu pekan balapan, mobil mereka bisa menghasilkan lebih dari 35 miliar poin data yang setara dengan 30 GB data. Dengan demikian, akan menjadi bencana besar jika sistem mereka dijebol oleh para penjahat cyber.

Indonesia termasuk sasaran tertinggi malware

Microsoft terus berupaya membasmi kejahatan cyber. Mereka memberikan perhatian khusus terhadap wilayah Asia, yang dinilai paling banyak menjadi sasaran program jahat.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Dalam laporan kuartal pertama 2017 dari Security Intelligence Report (SIR), Volume 22, komputer negara-negara Asia yang paling rawan terinfeksi virus. Ini yang membuat Microsoft membangun Cybercrime Satellite Center (CSC) atau pusat satelit pembasmi kejahatan cyber di Singapura pada tahun 2015, setelah di Washington, Berlin, Tokyo dan Beijing.

"Microsoft berkomitmen membantu para pengguna dan rekan kami membangun kepercayaan dan langkah pertama adalah membantu mereka memahami ancaman kejahatan cyber sehingga mereka bisa mengimplementasikan cara yang lebih efektif untuk menetralisir risiko," ujar Assistant General Counsel & Regional Direktor Digital Crimes Unit Microsoft Asia, Keshav Dhakad, dalam keterangan kepada media di kantor Microsoft Asia, Singapura.

Indonesia berada di posisi empat besar negara Asia yang paling banyak terserang malware, di bawah Bangladesh, Pakistan dan Kamboja. Di bawah Indonesia ada Mongolia, Myanmar, Vietnam, Nepal, Thailand dan Filipina untuk melengkapi daftar 10 besar.

Pada paruh pertama tahun 2017 ini, dua ransomware yang sangat terkenal adalah WannayCrypt dan Petya. (Baca: Apa Itu Ransomware Petya?)



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.