Cara Indonesia Tangani Google dkk Diminati Negara Lain

Kompas.com - 27/09/2017, 12:58 WIB
Menteri Komunikasi dan Informatika  Indonesia Rudiantara saat berbicara pada acara Ministers Rountable di ITU Telecom World 2017 di Busan, Korea Selatan, Selasa (26/9/2017). Kompas.com/Egidius PatnistikMenteri Komunikasi dan Informatika Indonesia Rudiantara saat berbicara pada acara Ministers Rountable di ITU Telecom World 2017 di Busan, Korea Selatan, Selasa (26/9/2017).
|
EditorDeliusno

BUSAN, KOMPAS.com - Sejumlah negara anggota International Telecommunication Union (ITU) tertarik dengan cara Indonesia menangani layanan over-the-top (OTT). Mereka ingin tahu lebih jauh model Indonesia yang telah menerbitkan roadmap e-commerce dan kini sedang membuat regulasi bagi penyedia layanan OTT seperti Google, Facebook, Twitter, dan Telegram.

Ketertarikan itu muncul saat Menteri Komunikasi dan Informatika Indonesia Rudiantara berbicara pada Ministers Rountable bertajuk "Transforming the ICT Sector" di Busan, Korea Selatan, Selasa (26/9/2017). Ministers Rountable tersebut merupakan bagian dari rangkaian agenda ITU Telecom World 2017 yang berlangsung sejak Senin lalu hingga Kamis besok.

Rudiantara menjadi salah satu pembicara pada acara yang dihadiri sejumlah menteri dan para petinggi di bidang teknologi informasi dan komunikasi para negara anggota ITU, sebuah badan khusus di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk teknologi informasi dan komunikasi (TIK) atau biasa disebut ICT.

Pada kesempatan itu Rudiantara menjelaskan berbagai hal berkenaan dengan strategi dalam penanganan transformasi ICT di Indonesia, seperti Indonesia telah menerbitkan roadmap e-commerce, dan kini mendesak penyedia layanan OTT menaati regulasi terkait konten yang menyebar melalui layanan mereka, serta isu perpajakan.

Sejumlah perwakilan negara anggota ITU tertarik dengan langkah Indonesia itu, antara lain perwakilan dari Zimbabwe, Nigeria, dan Pakistan.

Namun Moderator acara Ministers Rountable itu, Catalin Marinescu, yang merupakan Head of Corporate Strategy Division ITU, mengatakan isu soal OTT sangat sensitif dan perlu pembahasan lain yang lebih hati-hati karena terkait dengan sejumlah topik, seperti perpajakan.

Baca juga: Rudiantara: Permen OTT Akan Terbit Akhir Tahun Ini

Rudiantara mengatakan, dia tidak peduli jika ITU melihat hal itu sebagai isu sensitif. Indonesia mendekati hal tersebut sebagai masalah bisnis. Penyedia layanan OTT telah menjadi negara-negara anggota ITU, termasuk Indonesia, sebagai pasar.

"Karena itu kita harus menggunakan kekuatan kita. Kawan saya dari Zimbabwe, bagi saya ini adalah bisnis. Dalam bisnis kita harus gunakan kekuatan kita. Kekuatan apa? Pasar," kata Rudiantara.

Minta patuhi aturan Indonesia

Ia mengatakan, banyak negara mengalami masalah yang kurang lebih sama terkait layanan OTT (layanan konten berupa data, informasi atau multimedia yang berjalan melalui jaringan internet). Indonesia juga punya tingkat literasi yang berbeda dengan negara maju lainnya terkait konten OTT.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X