Upaya Mempopulerkan Gamer Sebagai Profesi Pilihan di Indonesia

Kompas.com - 25/10/2017, 15:33 WIB
Dispora Surakarta, Suhanto dalam menjawab tantangan eSport dalam persepsi masyarakat Indonesia. WahyunandaDispora Surakarta, Suhanto dalam menjawab tantangan eSport dalam persepsi masyarakat Indonesia.
|
EditorReza Wahyudi

SOLO, KOMPAS.com - Bagi kebanyakan anak di Indonesia, bermain game berjam-jam di depan layar komputer seringkali berhadiah nasihat yang panjang dari sang orang tua. Main game di Tanah Air masih dianggap hiburan sesaat dan tak berfaedah.

Namun, kini muncul fenomena baru yang harus diketahui bahwa bermain game pun bisa menjadi profesi idaman dengan bayaran yang fantastis.

Salah satu fenomena tersebut adalah e-sport yang hadir di tengah hiruk pikuk digitalisasi. E-sport merupakan olahraga digital yang terorganisir dengan pelatihan khusus seperti halnya atlet profesional sepak bola, bulutangkis, ataupun basket.

Atlet e-sport pun dibayar secara profesional dengan bayaran yang tinggi untuk bermain game. Sayangnya, gaung e-sport masih cukup asing terdengar bagi sebagian besar masyarakat Indonesia.

Menjadikan olahraga hiburan ini diterima sebagai sebuah profesi di masyarakat khususnya orang tua pun memiliki tantangannya sendiri.

"Ini merupakan pekerjaan yang harus kita selesaikan bersama. Untuk mempercepat program ini (memperkenalkan e-sport) salah satu caranya adalah dengan kerja sama antara iCafe (Internet Cafe) yang menggandeng institusi pemerintah maupun pendidikan", jelas perwakilan Dinas Pemuda dan Olahraga Surakarta Suhanto dalam acara Media Briefing Nvidia, Selasa (24/10/2017) di Posedion Game Arena, Solo, Jawa Tengah.

Kepada KompasTekno, Suhanto menambahkan dengan menggandeng institusi, orang tua akan lebih mudah memahami dan percaya pada program e-sport. Ia juga mengatakan bahwa sosialisasi dari media sangat besar pengaruhnya untuk perkembangan e-sport Indonesia.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Baca juga: "Rekor Baru, Hadiah Kompetisi "Dota 2" Capai Rp 277 Miliar"

Setali tiga uang dengan Suhanto, Kepala Sekolah SMA 2 Batik Surakarta menyambut hangat e-sport di Indonesia ini. Ia bahkan menyampaikan bahwa ada kemungkinan akan diadakan ekstrakulikuler e-sport di sekolahnya.

"Mungkin akan dibuat ekstrakulikuler suatu saat nanti. Bagi para siswa boleh saja bermain asal tidak memakai seragam dan tidak bermain saat jam pelajaran", ujarnya.

Di negara yang sudah menjadikan gamer sebagai sebuah profesi mereka juga membuat skema pembinaan yang profesional pula. Untuk menjadi gamer profesional, seseorang akan dibina dalam bermain game selama 8 jam dengan beberapa kali sesi istirahat.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.