Pertama Kali, Film Berteknologi VR Raih Piala Oscar

Kompas.com - 02/11/2017, 10:09 WIB
Leonardo DiCaprio (kiri) berfoto dengan Oscar untuk Aktor Terbaik dan sutradara film The Revenant, Alejandro G Inarritu, yang dinobatkan sebagai sutradara terbaik pada Academy Awards ke-88, Minggu (28//22016). ROBYN BECK / AFPLeonardo DiCaprio (kiri) berfoto dengan Oscar untuk Aktor Terbaik dan sutradara film The Revenant, Alejandro G Inarritu, yang dinobatkan sebagai sutradara terbaik pada Academy Awards ke-88, Minggu (28//22016).
|
EditorDeliusno

KOMPAS.com - Perkembangan teknologi yang sangat dinamis nyatanya mempengaruhi segala bidang, tak terkecuali sinematografi. Sebut saja yang paling sering digunakan Hollywood untuk membuat efek visual pada film-filmnya, seperti computer generated imagery (CGI).

Teknologi CGI ditambah dukungan suara menggelegar akan memberikan efek yang membuat penonton seolah merasakan langsung visualisasi film. Namun ada teknologi baru yang lebih dari teknologi CGI untuk melibatkan perasaan dan visual penonton. Teknologi tersebut adalah Virtual Reality ( VR).

Terobosan baru tersebut telah dilakukan oleh sutradara, produser sekaligus penulis naskah, Alejandro Iñárritu. Ia menggunakan teknologi virtual reality (VR) untuk memproduksi filmnya yang berjudul CARNE y ARENA (Virtually Present, Physically Invisible).

Kerja keras Iñárritu untuk menggarap karya itu pun membuahkan hasil. Karyanya itu bakal diganjar gelar khusus The Academy Award atau Piala Oscar.

Baca juga : Menjajal Wahana Virtual Reality di MWC Shanghai 2016

Film Alejandro G. Iñárritu menggunakan teknologi VR berjudul Carne y Arena yang meraih Oscar 2018 Film Alejandro G. Iñárritu menggunakan teknologi VR berjudul Carne y Arena yang meraih Oscar 2018
Alhasil, karya Iñárritu ini bakal menjadi film berbasis VR pertama yang mendapat Piala Oscar. Kategorinya untuk film VR sendiri belum ada sehingga film tersebut mendapat gelar khusus.

Dengan teknologi VR, CARNE y ARENA menceritakan kondisi kemanusiaan para imigran dan pengungsi. VR digunakan untuk memberikan pengalaman nyata bagi penonton untuk ikut merasakan bagaimana perjuangan para pengungsi dam imigran.

Agar pengalaman semakin nyata dan dramatis, CARNE y ARENA ditampilkan di sebuah ruangan yang luas dengan lantai yang tertutup pasir dan ruang tunggu yang dingin. Film berbasis VR itu sendiri berdurasi enam setengah menit.

Presiden Academy of Motion Picture Arts and Sciences (AMPAS), John Bailey, mengaku karya Iñárritu sangat emosional dan secara fisik memberikan pengalaman sangat mendalam tentang migran yang melintasi gurun pada dini hari.

"Lebih dari sekadar terobosan kreatif yang memadukan VR yang secara nyata menghubungkan kita dengan realitas politik dan sosial yang panas antara Amerika Serikat dan perbatasan Meksiko," kata Bailey seperti yang dihimpun KompasTekno dari Engadget, Kamis (2/11/2017).

Penghargaan Oscar ini nantinya akan diserahkan di acara Governors Award pada 11 November mendatang di Ray Dolby Ballroom Hollywood & Highland Center.

Karya Iñárritu dipamerkan di berbagai museum di seluruh dunia. Saat ini CARNE y ARENA sedang ditampilkan di Museum of Art, Los Angeles.

Iñárritu sendiri sebelumnya sudah pernah memenangkan Piala Oscar melalui karyanya, yakni Birdman dan The Revenant.

Baca juga : Nonton Virtual Reality di Bioskop, 10 Menit Bayar Rp 130.000

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Sumber ENGADGET
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X