Ilmuwan Kembangkan Teknologi Cahaya Pengganti Serat Optik

Kompas.com - 02/11/2017, 12:06 WIB
Ilustrasi GoogleIlustrasi
|
EditorOik Yusuf

KOMPAS.com - Kabel serat optik mampu menyalurkan bandwidth besar, tapi jangkauannya terbatas. Sebaliknya, metode wireless lebih fleksibel karena bisa dipancarkan ke berbagai arah tanpa butuh kabel, tapi transfer datanya tak sekencang serat optik.

Tak lama lagi kecepatan transfer data kabel serat optik dan fleksibilitas wireless mungkin bisa digabungkan. Indikasinya, belakangan Asosiasi ilmuwan asal Skotlandia, Jerman, New Zealand dan Kanada menemukan terobosan dalam pengembangan free space optics, yakni metode transfer data luar ruangan dengan memakai gelombang cahaya yang "dipelintir".

"Free space optics adalah solusi yang bisa memberikan bandwith serat optik, tapi tidak membutuhkan kabel fisik," ujar Dr. Martin Lavery, kepala Photonics Research Group University of Glasgow sekaligus pimpinan tim riset gabungan yang melibatkan ilmuwan dari beberapa negara tersebut.

Tepatnya, terobosan dimaksud adalah identifikasi problem yang bisa muncul dari penggunaan gelombang cahaya untuk transfer data di luar ruangan dan kemungkinan cara mengatasinya.

Free space optics mentransfer data lewat gelombang cahaya yang "diplintir" dengan teknik "optical angular momentum" (OAM). Caranya adalah dengan meneruskan foton (partikel cahaya) lewat hologram khusus, mirip yang terdapat di kartu kredit.

Selain informasi digital dalam bentuk angka "0" dan "1", gelombang cahaya yang diplintir (twisted) bisa turut menghantarkan data tambahan di sela-sela deretan data tersebut. Inilah yang membuat kecepatan transfer datanya tinggi.

Masalahnya, tak seperti serat optik yang terlindung kabel, free space optics rawan terganggu kondisi di luar, seperti misalnya perbedaan tekanan atmosfir yang bisa membuyarkan cahaya dan menghilangkan data.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Problem transfer data luar ruangan macam inilah yang coba diidentifikasi dan dicarikan solusinya oleh tim peneliti. Mereka menguji OAM dalam kondisi urban yang sesuai keadaan sebenarnya di Jerman, menggunakan jarak 1,6 km yang melintasi aneka obyek seperti lapangan, jalanan, dan gedung-gedung tinggi.

Memang, hal tersebut tak serta merta berarti free space optics sudah siap dipakai. Namun bagaimanapun juga tim peneliti telah melakukan pengembangan berarti sehingga free space optics makin dekat dengan realisasi.

"Studi ini menghasilkan langkah-langkah vital dalam perjalanan menuju free space optics dimensional yang bisa menjadi alternatif lebih murah dan lebih mudah diakses dibanding kabel serat optik yang terkubur di tanah," imbuh Lavery, sebagaimana dirangkum KompasTekno dari website Universitas Glasgow, Kamis (2/11/2017).

Kalau nanti benar-benar terwujud, Lavery mengatakan sistem transfer data nirkabel berkecepatan tinggi ini bisa menggantikan peranan serat optik dalam menghantarkan data internet, setidaknya untuk last mile alias koneksi akhir ke pelanggan. Negara-negara berkembang dan kota-kota besar di seluruh dunia pun tak lagi harus merogoh kocek dalam-dalam atau terhubung ke kabel untuk mendapatkan internet kencang.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.