Fortinet: Serangan Siber Akan Sangat Merusak dan Mampu Belajar Sendiri

Kompas.com - 15/11/2017, 20:55 WIB
Derek Manky, Global Security Strategist Fortinet, berbicara dalam acara konferensi media di Shopia Antipolis, Perancis, Selasa (14/11/2017). KOMPAS.com/AMIR SODIKINDerek Manky, Global Security Strategist Fortinet, berbicara dalam acara konferensi media di Shopia Antipolis, Perancis, Selasa (14/11/2017).
Penulis Amir Sodikin
|
EditorLaksono Hari Wiwoho

SHOPIA ANTIPOLIS, KOMPAS.com - Serangan siber pada tahun 2018 diprediksikan akan semakin destruktif dan bahkan memiliki kemampuan untuk belajar sendiri (self-learning). Model serangan ini dikhawatirkan akan menjadi bisnis baru yang diseriusi para peretas di tahun 2018.

Demikian prediksi dari Fortinet yang disampaikan oleh Derek Manky, Global Security Strategist Fortinet, dalam acara konferensi media di Shopia Antipolis, Perancis, Selasa (14/11/2017). Kompas.com menjadi salah satu peserta di acara tersebut.

Fortinet merupakan perusahaan yang bergerak di bidang solusi keamanan siber. Mereka memiliki Fortinet FortiGuard Labs, yang menggelar riset terkait ancaman siber global secara reguler.

Manky menekankan, serangan siber di tahun 2018 akan mengadopsi kemampuan canggih dalam bidang intelijen buatan dan automatisasi ( artificial intelligence and automation).

Kemampuan AI dan automatisasi ini dipakai untuk meningkatkan ransomware untuk memeras layanan komersial. Para peretas juga tengah menyiapkan senjata yang makin canggih untuk menyerang perangkat elektronik yang terhubung dengan internet (internet of things) atau IoT serta infrastruktur strategis.

"Ekonomi digital kita dihasilkan dari inovasi teknologi yang menciptakan kesempatan baik maupun buruk di bidang keamanan siber," kata Manky. Selalu saja ada yang memanfaatkan kesempatan untuk mengambil keuntungan ilegal.

Manky menekankan, fenomena banyaknya perangkat elektronik yang terhubung internet menciptakan fenomena hyperconnectivity, yang kemudian dimanfaatkan para pemain kriminal baru yang tak mudah untuk diatasi.

"Saat bersamaan, musuh ternyata telah memanfaatkan automatisasi dan kecerdasan buatan dengan skala yang berlipat, tak terduka, dan jangkauan yang lebih luas," kata Manky.

Serangan siber, seperti WannaCry dan NotPetya beberapa bulan lalu, menjadi pertanda kemunculan serangan yang sifatnya masif dan diperkirakan akan memiliki dampak ekonomi signifikan di masa depan.

"Sistem keamanan yang mengandalkan kekuatan untuk automasi, integrasi, dan terfokus akan menjadi harapan baru untuk memerangi ancaman masa depan yang makin cerdas," kata Derek.

Tahun 2018, kata Manky, akan menjadi era kebangkitan hivenet dan swarmbot yang dibangun berdasarkan serangan canggih, seperti Hajime dan Devil's Ivy atau Reaper. Fortinet memprediksikan para kriminal siber akan menggantikan cara lama, yaitu botnet dengan cara baru yang disebut hivenet.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X