kolom

Menanti Efisiensi Industri Telko Lewat Registrasi Kartu SIM Prabayar

Kompas.com - 20/11/2017, 20:28 WIB
Seorang warga terlihat sedang registrasi SIM card miliknya di salah satu gerai di kawasan Bumi Serpong Damai, Tangerang, Banten, Selasa (7/11/2017). Pemerintah mewajibkan registrasi ulang SIM card bagi para pengguna telepon seluler hingga 28 Februari 2018 dengan memakai nomor NIK dan kartu keluarga (KK). KOMPAS.com / ANDREAS LUKAS ALTOBELISeorang warga terlihat sedang registrasi SIM card miliknya di salah satu gerai di kawasan Bumi Serpong Damai, Tangerang, Banten, Selasa (7/11/2017). Pemerintah mewajibkan registrasi ulang SIM card bagi para pengguna telepon seluler hingga 28 Februari 2018 dengan memakai nomor NIK dan kartu keluarga (KK).
EditorAmir Sodikin

Cara pendaftaran/ registrasi kartu SIM berdasarkan SIN menjadi sederhana karena pelanggan atau calon pelanggan tak perlu memasukkan nama, apa lagi nama ibu kandung, cukup NIK dan nomor KK.

Proses ini jika sesuai data, kepada pelanggan akan diberi tahu bahwa registrasi berhasil, dengan – hebatnya – tampil pula nama pemilik NIK.

Kebijakan pemerintah tadi mengakhiri era pelanggan “bodong” yang pulsanya nol tetapi berakibat ARPU (average revenue per user – rata-rata pendapatan dari pelanggan) operator sangat rendah, sekitar Rp 23.000 per bulan.

Baca juga : Fitur Cek Data untuk Registrasi Kartu Prabayar Hadir Akhir November

Pemberian program promo juga merangsang pelanggan pindah operator (churn) yang jumlahnya sekitaran 30 persen, padahal promo membebani operator karena tarif layanannya di bawah biaya investasi dan biaya operasi.


Tambah-kurang

Menurut M Adlan Bin Ahmad Tajudin, Direktur dan CFO (Chief Excecutive Finance) PT XL Axiata, setiap tahun ada sekitaran 600 juta kartu SIM perdana yang dijual ke pasar oleh (semua) operator.

Informasi menyebutkan, dengan harga modal Rp 5.000 per keping SIM atau sejumlah Rp 3 triliun itu, operator mewajibkan distributor menebusnya Rp 10.000 karena sudah diisi pulsa Rp 5.000.

Tetapi akibat persaingan ketat untuk mendapat pelanggan baru, di pasar kartu perdana tadi dijual murah, sekitaran Rp 5.000.

Kenyataannya, dari 600 juta perdana itu, yang benar-benar menjadi pelanggan baru, diukur dari pengisian pulsa setidaknya tiga kali, hanya enam sampai 10 juta. Itu pun yang benar-benar pelanggan baru hanya sekitar satu juta sampai dua juta.

Sisanya sekadar zero sum game, penambahan jumlah pelanggan satu operator mengurangi jumlah pelanggan operator lain, akibat churn.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X