Mark Zuckerberg Diberi Penghargaan "Pemberi Informasi Palsu"

Kompas.com - 22/12/2017, 07:18 WIB
|
EditorReska K. Nistanto

KOMPAS.com - Pendiri Facebook, Mark Zuckerberg dinobatkan sebagai “Misinformer of the Year” atau jika diterjemahkan kurang lebih "pemberi informasi salah/palsu sepanjang tahun". Penghargaan itu diberikan oleh Media Matters for America (MMFA), kelompok progresif yang dibentuk untuk megawasi pergerakan media-media dan konten di dalamnya.

Setelah Pemilu AS 2016, MMFA semakin fokus memperhatikan platform media sosial semacam Facebook, Twitter, Snapchat, hingga YouTube. Hasil analisa MMFA kemudian meruncing ke Facebook, utamanya Mark Zuckerberg.

Facebook pertama kali disoroti pasca terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden AS. Pasalnya, ada sebuah artikel hoax yang viral di Facebook dan berpotensi memprovokasi masyarakat untuk memilih Donald Trump.

Awalnya Facebook tak terima disalahkan, namun belakangan mulai melunak dan mengakui kelalaiannya. Sejak itu, Facebook pun berkali-kali melontarkan janji untuk memberantas hoax dari jejaring sosialnya.

Baca juga: Modus Baru Facebook, Sebut Media Sosial Malah Bikin Orang Kesepian

Ada beberapa upaya yang dilakukan Facebook, mulai dari mempermudah proses pelaporan berita hoax oleh pengguna, memperingatkan pengguna ketika hendak membagi berita-berita yang diperdebatkan, hingga memutuskan insentif bagi penyebar berita palsu.

Kendati begitu, MMFA melihat upaya-upaya Facebook sifatnya masih di permukaan, belum menyentuh akar sistem. Facebook belum benar-benar tulus ingin memberantas hoax, setidaknya begitu menurut Presiden MMFA, Angelo Carusone.

“Apa yang Facebook lakukan pada 2017 lebih kepada upaya public relation (hubungan masyarakat), daripada pendekatan sistemik yang dalam dan substantif,” kata dia, sebagaimana dihimpun KompasTekno, Jumat (22/12/2017), dari Mashable.

“Peran Facebook dalam Pemilu AS sangat jelas menggambarkan masalah mendasar, yakni memungkinkan informasi-informasi salah tersebar luas,” ia menambahkan.

Angelo Carusone mencontohkan implementasi ikon “trust indicator” di Facebook yang melibatkan pengguna dalam mengukur kredibilitas artikel. Upaya itu diibaratkan seperti sendok kecil yang mencoba mengangkut semen berton-ton.

Program pengecekan fakta pada Facebook juga diyakini tak efektif. Hal yang sama disepakati mitra organisasi media yang digandeng Facebook, seperti Associated Press dan FactCheck.org.

Baca juga: Facebook Mulai Berantas Pengemis Like dan Share

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.