iPhone X Disebut Produk Gagal 2017, Ini Alasannya - Kompas.com

iPhone X Disebut Produk Gagal 2017, Ini Alasannya

Kompas.com - 11/01/2018, 11:12 WIB
iPhone X dirilis Selasa (12/9/2017).Ist iPhone X dirilis Selasa (12/9/2017).

KOMPAS.com - Sebuah media inovasi teknologi melabeli iPhone X sebagai salah satu produk gagal terbesar dan terburuk sepanjang 2017. Fitur yang ditawarkan iPhone X dinilai belum terlalu dibutuhkan penggunanya saat ini, alih-alih memperbaiki kelemahan produk iPhone sebelumnya.

Masalah yang dikeluhkan penggemar iPhone lawas pada umumnya, seperti baterai yang boros dalam pemakaian singkat, baterai lawas yang memengaruhi kinerja ponsel, atau material yang tidak begitu awet belum bisa diatasi Apple.

"iPhone X adalah simbol malfungsi. Ponsel ini dibekali fitur yang tidak diminta siapa pun. Layarnya yang besar tidak memungkinkan untuk digunakan dengan satu tangan, dan menguras banyak piksel di setiap sudutnya, hingga ke notch (takik di bagian layar atas)", begitu tulis Fastcodesign sebagaimana dirangkum KompasTekno, Kamis (11/1/2018).

Mereka juga megkritik beberapa perubahan fitur iPhone X dari generasi sebelumnya yang disebut tidak begitu diperlukan.

Baca juga : Tiap Jual 1 iPhone, Apple Untung Rp 2 Juta

"Face ID adalah mimpi buruk untuk UX (user experience) dengan menghapus tombol home yang mendukung UI (tampilan antar muka). Namun marketing Apple berhasil memoles fitur yang tidak perlu ini sebagai 'ponsel masa depan'", imbuhnya.

Meskipun tidak menunjukan data survey atau pendapat dari para pengguna, beberapa tulisan dari artikel berbeda ditarik untuk mendukung klaim bahwa iPhone X merupakan salah satu produk gagal tahun 2017. 

Prosesor A11 Bionic yang dinilai sama saja

Apple pernah menyebut jika prosesor baru iPhone X, A11 Bionic memiliki 'sistem saraf' hingga 600 miliiar operasi per detik, dan 70 persen lebih cepat dibanding seri sebelumnya, A10 Fusion.

Baca juga : Face ID iPhone X Bisa Dikelabui Topeng

Kecanggihan tersebut dibuat untuk menampung artificial intelligence yang menangani machine learning dan membantu sensor Face ID untuk bisa mengenal wajah pemiliknya, ketika mengenakan kacamata atau bertumbuh jenggot. Nyatanya, chip A11 Bionic yang diklaim lebih cepat itu belum tentu mampu memindahkan aplikasi lebih cepat 70 persen.

Face ID yang sia-sia

Selain menyebut Face ID menjadi mimpi buruk UX di UI dengan hilangnya tombol home, munculnya Face ID juga dianggap sia-sia, karena tidak memperbaiki masalah di Touch ID seperti tingkat keamanan.

Apple sendiri mengklaim jika Face ID sama halnya dengan Touch ID yang bisa dibobol. Tanpa harus diganti dengan Face ID, Touch ID diklaim masih berfungsi dengan baik.

Layar besar yang sulit digunakan dengan satu tangan

Tidak semua pengguna nyaman dengan layar OLED 5,8 inci. Sebagian orang merasa layar yang besar tidak praktis digunakan dengan satu tangan.

Baca juga : iPhone X Ludes Dipesan

Di luar pendapat di atas, Apple telah meraup untung dari penjualan iPhone X. Terbukti dari ludesnya produk tersebut dalam masa pemesanan (pre-order) di 55 negara dalam waktu singkat. Hal tersebut tidak terdengar seperti sebuah kegagalan.

Tentu beberapa orang memiliki masalah dengan fitur-fitur tertentu di iPhone X seperti Face ID. Namun perlu dicatat, kala Touch ID diperkenalkan 2013 lalu, masalah-masalah yang dikeluhkan pun tak kalah banyak.


EditorReska K. Nistanto
Komentar
Close Ads X