CEO GoPro Bicara soal Penutupan Bisnis Drone - Kompas.com

CEO GoPro Bicara soal Penutupan Bisnis Drone

Kompas.com - 12/01/2018, 17:12 WIB
GoPro memamerkan Karma, drone lipat buatannya, di booth mereka yang terletak di Hall 9 Koelnmesse.Yoga Hastyadi Widiartanto/KOMPAS.com GoPro memamerkan Karma, drone lipat buatannya, di booth mereka yang terletak di Hall 9 Koelnmesse.

KOMPAS.com - Setelah lama tak terdengar kabarnya, GoPro mengemukakan kabar mengejutkan. Melalui pernyataan pendiri GoPro, Nick Woodman, pihaknya telah merumahkan ratusan karyawan yang bekerja di bawah divisi drone karma sekaligus menghapus divisi tersebut dari perusahaan.

Hal ini disebabkan lantaran perusahaan sedang berada dalam masa sulit. Sehingga GoPro harus memangkas operasional perusahaan. Karenanya, saat ini GoPro akan lebih fokus pada bisnis kamera outdoor yang dirasa bisa menjadikan perusahaan dapat bertahan lebih lama.  

Meski dalam kondisi kritis, Woodman enggan berkomentar ketika ditanya mengenai rencana menjual perusahaan saat berada di event CES Las Vegas, Amerika Serikat pekan ini. Ia hanya menyatakan bahwa pihaknya membuka diri jika ada perusahaan lain yang ingin menyuntik modal ke GoPro.

"Kami akan terus menyusun strategi agar perusahaan ini tetap bisa berjalan secara mandiri. Karena yang dapat menentukan nasib kita adalah kita sendiri," ujar Woodman dikutip KompasTekno dari TechCrunch, Jumat (12/1/2018).

Baca: GoPro Berhenti Bikin Drone, Jual Murah Kamera Hero 6

Sesaat setelah Woodman mengumumkan keadaan perusahannya, saham GoPro dikabarkan anjlok hingga 20 persen.

Tahun lalu GoPro sempat merilis kamera drone sebagai portofolio produknya, GoPro Karma namanya. Tapi berselang 16 hari setelah produk tersebut rilis pada pertengahan 2016, GoPro menarik produk tersebut dari pasaran, lantaran masalah teknis.

Tiga bulan kemudian, GoPro Karma kembali mengudara. Sayangnya, penjualan GoPro Karma tidak sesuai ekspektasi, sehingga GoPro Karma tak lagi terdengar kabarnya. Hingga awal Januari 2018, GoPro Karma benar-benar dihentikan produksinya.

Selain GoPro Karma, produk lain seperti kamera aksi Hero 5 Black juga mencatat angka penjulan yang buruk. Sepinya pembeli menyebabkan GoPro harus menurunkan harga kamera tersebut dari harga awal 399 dollar AS (Rp 5,3 juta) menjadi 299 dollar AS (Rp 4 juta).

Sedangkan kamera aksi seri terbaru, Hero 6 Black juga mengalami penurunan harga sebesar 100 dollar AS (Rp 1,3 juta) hingga pada akhirnya berhenti diproduksi.

Tidak ingin gagal lagi, Woodman berupaya untuk menciptakan perangkat baru yang diminati oleh masyarakat ke depannya. Karenanya, GoPro kemudian meneruskan pertaruhannya dengan menciptakan kamera aksi Fushion yang dibanderol dengan harga 699 dollar AS (Rp 9,3 juta).

Dibandingkan kamera aksi GoPro lainnya, Fushion memiliki kelebihan berupa software yang memungkinkan pengguna mengedit gambar yaang telah diambilnya. Selain itu, Fushion juga dilengkapi dengan teknologi sekelas kamera 360 dapat menangkap objek menjadi lebih menarik.

"Saya tidak berfikir bahwa konsumen menginginkan kamera 360. Tapi saya rasa mereka menginginkan kamera sederhana yang menawarkan kemudahan dalam mengambil serta membagikan momen yang terekam dalam kamera," ujar Woodman

"Saya rasa seperti itulah kamera 360 masa depan," tambahnya.


EditorReska K. Nistanto

Komentar
Close Ads X