Kompas.com - 02/02/2018, 15:12 WIB
Ilustrasi ShutterstockIlustrasi
|
EditorReza Wahyudi

KOMPAS.com - Keluarga dari korban pembunuhan yang disiarkan di Facebook Live pertengahan 2017 lalu, menuntut perusahaan jejaring sosial tersebut ke pengadilan. Tuntutan hukum diajukan oleh keluarga Robert Godwin Sr yang menjadi korban penembakan yang dilakukan oleh Steve Stephens (37).

Facebook dianggap lalai dan gagal mencegah ancaman yang akan terjadi. Tuntutan hukum yang diajukan keluarga Godwin menyorot algoritma dan data mining yang dimiliki Facebook, sehingga menurut mereka seharusnya Facebook bisa melakukan pencegahan lebih cepat.

Keluarga Godwin mengklaim, pelaku pembunuhan sempat mem-posting beberapa tulisan dengan nada mengancam sebelum kejadian tersebut. Insiden terjadi pada tanggal 16 April 2017 bertepatan dengan hari Paskah di Cleveland.

Dalam video yang beredar, pelaku berada di mobil dengan mengeluarkan kata kasar sambil melakukan video live di Facebook. Saat melihat Godwin (74) yang berjalan menuju rumah, pelaku kemudian menepi, dan sempat berdebat dengan korban.

Ia pun menodongkan pistol ke Godwin. Tak beberapa lama suara tembakan terdengar dan korban terkapar berlumur darah. Insiden penembakan tersebut disiarkan lewat Facebook Live. Video tersebut pun sempat viral di linimasa Facebook.

Facebook sendiri mengaku baru menghapus video itu 23 menit setelah menyadari video tersebut beredar. Dua hari setelah menembak Godwin, pelaku terlihat di Pennsylvania dan memilih mengakhiri hidupnya setelah diburu oleh pihak berwajib.

Atas tragedi tersebut, Facebook turut menyampaikan bela sungkawa kepada keluarga korban melalui perwakilannya, Natalie Naugle.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Kami ingin semua orang merasa aman menggunakan Facebook, itulah mengapa kami memiliki kebijakan untuk melarang ancaman langsung, serangan, ancaman serius yang membahayakan publik dan keamanan pribadi serta aktivitas kriminal", ujarnya.

Ia menambahkan jika Facebook telah menyediakan alat untuk melaporkan konten yang melanggar kebijakan Facebook sehingga tragedi semacam itu bisa cepat diketahui untuk kemudian dihapus.

Bela sungkawa juga disampaikan langsung oleh CEO Facebook, Mark Zuckerberg. Ia juga menyampaikan jika Facebook tak hanya diam menyikapi tragedi tersebut.

"Kami memiliki rencana matang untuk produk yang bisa membangun kelompok dan komunitas, membantu membangun lebih banyak informasi di masyarakat, dan membantu komunitas kita tetap aman", jelas Zuckerberg sebagaimana KompasTekno rangkum dari USA Today, Jumat (2/2/2018).

Dari tuntutan tersebut, keluarga Godwin meminta ganti rugi seluruh biaya hukum sesuai aturan yang berlaku.

Baca juga : Eks Boss Facebook: Saya Bersalah Ciptakan Pemecah Belah Masyarakat

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Sumber USA Today
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.