Riset Terbaru Kebiasaan Main Game FPS, Berbahaya untuk Otak - Kompas.com

Riset Terbaru Kebiasaan Main Game FPS, Berbahaya untuk Otak

Kompas.com - 14/02/2018, 08:11 WIB
Ilustrasi seorang gamer brmain first person shooterMicko1986 Ilustrasi seorang gamer brmain first person shooter

KOMPAS.com - Dua peneliti dari Université de Montréal dan McGill University mempublikasikan penelitian mereka tentang psikiatri molekular. Dari penelitian tersebut, mereka menemukan keterkaitan antara game first-person shooter (FPS) dan reduksi materi abu-abu dalam hippocampus.

Materi abu-abu merupakan gen yang terkait kecerdasan, sedangkan hippocampus adalah bagian otak yang mengonsolidasi ingatan pendek ke ingatan jangka panjang serta kemampuan navigasi spasial.

Dua profesor bernama Gregory dan Veronique Bohbot, kemudian melakukan eksperimen dengan merekrut responden berusia 18-30 tahun. Responden tersebut sebelumnya belum pernah bermain video game.

Dalam eksperimen yang berjalan selama empat tahun, responden diarahkan untuk bermain game FPS dalam pengawasan kedua profesor tersebut. Subyek penelitian dibagi menjadi dua, mereka yang menggunakan ingatan spasial untuk menavigasi dan mereka yang menggunakan inti nukleus.

Inti nukleus dalam otak memiliki fungsi untuk membentuk kebiasaan. Dari hasil eksperimen, sebanyak 85 persen dari mereka yang bermain lebih dari enam jam seminggu mengalami peningkatan pada inti nukleus sekaligus penurunan pada materi hippocampus.

Artinya, secara esensial, bermain FPS menurunkan kemampuan mengingat alih-alih mempengaruhi perilaku.

Bagi mereka yang mengalami penurunan materi abu-abu dalam hippocamus memiliki risiko tinggi mengalami peningkatan post-traumatic disorder (PTSD). Pada usia muda, mereka memiliki kecenderungan mengalami depresi dan pada usia tua akan mengalami Alzhaimer.

Semakin lama durasi bermain game akan semakin memperparah kerusakan otak. Menurut peneliti, kebiasaan menggunakan inti nukleus membuat pemain menjadi "auto pilot learning" yang tentu tidak baik.

Sebagian besar peta FPS relatif kecil dengan beberapa titik penting untuk menembak, penyergapan dan sejenisnya. Kebanyakan pemain akan berusahan mengakses salah satu titik secepat mungkin dengan melatih otak untuk menavigasi di dalam ruangan virtual yang kecil.
Inilah yang akan menimbulkan kerusakan.

Baca juga : Kecanduan Main Game Kini Masuk Kategori Gangguan Mental

Peneliti juga membentuk kelompok yang memainkan video game platform 3D Super Mario.
Hasilnya, kelompok ini tidak mengalami degradasi hippocampal sebagaimana pemain FPS.
Hal ini mengindikasikan kerusakan hanya mungkin terjadi akibat perspektif dalam game jenis tertentu.

Game Super Mario menggunakan perspektif orang ketiga karena karakter Mario telihat secara keseluruhan. Sedangkan FPS, lebih menggunakan perspektif orang pertama, seolah pemain benar-benar masuk ke dalam ruang virtual.

Para gamer yang mengalami kerusakan pada hippocampal setelah bermain game dianjurkan untuk menjalani rehabilitasi karena kerusakan otak. Ketika menginjak usia senja, hippocampus para gamer akan mengalami penurunan kinerja.

Saat tua, manusia cenderung sedikit bergerak dan hanya mengikuti pola rutinitas, hal ini perlahan akan memakan inti nukleus. Saat hippocampus menyusut, area memori lain akan terpengaruh, sebagaimana KompasTekno rangkum dari Geek.com, Rabu (14/2/2018).

Hasil penelitian ini memang belum menjadi kesimpulan akhir. Bisa jadi, peneliti lain nantinya akan mereplika metode ini untuk diaplikasikan ke studi lain untuk meneliti game, demografi, dan bagian otak lain.

Argumen bahwa video game memiliki dampak negatif memang sulit dibantah, selain juga terdapat sisi positifnya dalam otak. Untuk mengurangi efek negatif, gamer FPS mungkin bisa mencoba variasi video game lain, seperti Super Mario Odyssey atau game lain yang sejenis.


Komentar

Terkini Lainnya

Close Ads X