BrandzView
Konten ini merupakan kerja sama Kompas.com dengan Nokia

Gaya Foto “Zaman Now” Vs “Zaman Old”, Ini Bedanya...

Kompas.com - 01/03/2018, 07:13 WIB
Ilustrasi foto zaman dulu ShutterstockIlustrasi foto zaman dulu

KOMPAS.com - Louis Daguerre mungkin tak pernah menyangka bahwa penantiannya selama 10 menit demi memotret pemandangan kota Paris justru menjadi momen yang tercatat indah dalam sejarah.

Menurut laman MyModernMet.com pada Jumat (5/5/2017), kala itu Louis hendak memotret kawasan Place de la Republique di ibu kota Perancis itu. Ia membutuhkan waktu setidaknya 10 menit sampai gambar terekam sempurna. Tak diduga, saat itulah ada orang lewat dan tak sengaja terpotret.

Foto yang diambil pada 1839 tersebut menjadi foto pertama dengan manusia sebagai obyeknya.

Foto ini dipotret oleh Louis Daguerre dari jendela rumahnya dan diberi caption huit heure du matin (8 am).Louis Daguerre; Public Domain via Wikipedia Foto ini dipotret oleh Louis Daguerre dari jendela rumahnya dan diberi caption huit heure du matin (8 am).


Sejak saat itu, tren berfoto dengan manusia sebagai obyeknya terus berkembang. Gaya dalam berfoto pun berbeda pada tiap zamannya.

Rupanya kemajuan teknologi, khususnya dalam fotografi, ditengarai turut memengaruhi gaya berfoto kita.

Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa orang zaman dahulu tidak berpose, bahkan sekadar tersenyum saat difoto? Coba tengok kembali foto lama milik keluarga Anda.

Gaya kaku dengan muka tegang dan raut serius pada foto zaman dulu bukannya tanpa alasan. Banyak pendapat mengenai hal ini. Salah satunya adalah kemampuan kamera yang begitu lama dalam mengambil gambar.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Bayangkan, pada abad ke-19, orang harus menahan pose yang tidak sebentar hingga akhirnya gambar bisa terekam sempurna. Seperti halnya Louis yang menunggu hingga 10 menit lamanya.

Terlebih lagi, tidak adanya teknologi pengatur waktu sehingga mereka tidak tahu pasti berapa lama sesi foto bisa selesai.

“Jika Anda akan menahan waktu cukup lama untuk berfoto, tentu Anda akan memilih pose yang paling nyaman,” kata Todd Gustavson, seperti dikutip dari laman Time, Senin (28/10/2016).

Todd adalah kurator teknologi di Museum George Eastman, museum fotografi tertua yang berlokasi di kota New York, Amerika Serikat.

Jadi, daripada tersenyum, mereka cenderung mengambil pose yang paling nyaman dan terkesan datar, bahkan terlihat terlalu serius.

Hal ini pula yang terlihat di wajah presiden ke-enam Amerika Serikat (AS), John Quincy Adams—presiden pertama di dunia yang diabadikan dalam foto.

Masih menurut laman MyModernMet.com, foto presiden pertama itu diambil di rumahnya di Massachusetts pada 1843, empat belas tahun setelah ia menunaikan tugasnya sebagai presiden AS.

Makin cepat dan bergaya

Memasuki akhir abad ke-19, teknologi fotografi kian berkembang. Hal ini ditandai dengan lahirnya kamera film yang diproduksi oleh George Eastman.

Berkat kamera Eastman yang berbentuk jauh lebih kecil daripada kamera sebelumnya, juga murah dan mudah dioperasikan, fotografi menjadi semakin populer. Tidak lagi hanya milik kaum elite, fotografi telah menjadi hobi kalangan kelas menengah.

Ilustrasi kamera, sejarah kamera, evolusi kameraShutterstock Ilustrasi kamera, sejarah kamera, evolusi kamera


Dalam hitungan detik, kamera film membuat gambar terekam sempurna. Bukan sekadar sempurna, hasil foto yang ditangkap juga semakin jernih berkat lensa yang mumpuni.

Salah satu produsen kamera yang turut andil dalam perkembangan fotografi adalah Zeiss. Pada 1935 misalnya, perusahaan asal Jerman ini berhasil menciptakan lensa yang dapat mengaktifkan fitur foto jernih untuk pertama kalinya.

Mengutip laman Zeiss.com Sabtu (21/3/2015), lensanya menggunakan lapisan anti-refleksi guna menghalau cahaya yang berlebihan dan refleksi yang mengganggu.

Penyempurnaan fitur-fitur kamera akhirnya turut mengubah pose seseorang saat dipotret. Gaya dalam berfoto semakin tereksplorasi, meninggalkan gaya dengan raut muka tegang dan serius. Ide untuk mengatakan “cheese” saat berfoto pun lahir pada era ini.

Laman TodayIFoundOut pada Selasa (2/4/2013) mewartakan, ungkapan ini pertama kali muncul sekitar 1940-an.

Menurut artikel pada 1943 di surat kabar Texas, The Big Spring Herald, memang tidak diketahui secara pasti siapa penggagas dan alasan pengucapan “cheese” saat berfoto. Namun, yang jelas ungkapan ini akan membuat bibir kita tersenyum saat mengucapkannya.

Penyebutan gugus konsonan “ch” akan membuat gigi atas dan bawah menyatu. Sementara itu, pelafalan vokal “ee” akan melibatkan gerak bibir sehingga menghasilkan ekspresi wajah yang menyerupai senyum.

Pose-pose luwes lainnya terus bermunculan di era itu. Kamera film yang mudah dioperasikan juga kemudian menjadi tonggak munculnya teknologi lain yang lebih canggih, seperti kamera digital, DSLR, juga mirrorless.

Namun, memasuki tahun 2000-an, kamera bukan lagi menjadi satu-satunya alat untuk berfoto. Sebab, telepon seluler (ponsel) berinovasi dengan menghadirkan kamera di dalamnya.

Berfoto menjadi semakin mudah dilakukan. Semakin banyak pula gaya yang bisa ditampilkan, baik berfoto sendiri, maupun beramai-ramai. Semua momen seakan wajib diabadikan dalam bidikan karena kamera ponsel selalu ada dalam genggaman.

Inovasi ponsel demi memanjakan pecinta fotografi kemudian menghadirkan teknologi kamera depan. Kamera ini memungkinkan pengguna untuk memfoto obyek sekaligus melihat hasilnya di layar sehingga pengguna tidak perlu lagi membalikkan kamera ketika memfoto diri sendiri (swafoto).

Ilustrasi selfie/foto keluarga Ilustrasi selfie/foto keluarga


Gaya yang dieksplorasi bisa semakin variatif karena perangkat yang digunakan juga semakin mudah dioperasikan. Terlebih lagi, dengan adanya teknologi pengatur waktu atau penangkapan gambar dengan sensor lambaian.

Keberadaan dua kamera dalam satu perangkat ini akhirnya semakin memudahkan pengguna saat memfoto sebuah obyek. Tinggal pilih kamera mana yang akan dipakai sesuai kebutuhan.

Namun, di “zaman now”, teknologi memungkinkan pengguna untuk memakai kedua kamera ini sekaligus. Pecinta fotografi bisa mengabadikan momen di kedua sisi secara bersamaan, baik di depan kamera maupun di belakang kamera ponsel.

Fitur bothie Nokia 8 menyajikan tangkapan kamera depan dan belakang dalam satu layar (frame). Nokia 8 juga mendukung live streaming dalam mode bothie ini ke YouTube dan Facebook.KOMPAS.com/ OIK YUSUF Fitur bothie Nokia 8 menyajikan tangkapan kamera depan dan belakang dalam satu layar (frame). Nokia 8 juga mendukung live streaming dalam mode bothie ini ke YouTube dan Facebook.


Pada ponsel Nokia 8, misalnya. Pengguna tak perlu bingung memilih untuk menangkap momen di salah satu sisi saja. Mode Dual-Sight pada kamera ini akan menyajikan tangkapan gambar dari kamera depan dan kamera belakang dalam satu frame atau yang lebih dikenal dengan istilah “bothie”.

Jika dengan satu kamera saja pengguna sudah bisa bereksplorasi dengan banyak gaya, bayangkan saat kedua kamera bisa aktif bersama.

Lupakan sudah gaya dengan wajah kaku dan serius seperti halnya foto zaman dulu. Fitur “bothie” dalam Nokia 8 yang didukung oleh lensa Zeiss ini justru akan membuat gaya foto semakin fun sehingga siap eksis saat diunggah ke media sosial.


Sumber Time
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.