Begini Kriteria "Powerbank" yang Boleh Dibawa Masuk Pesawat

Kompas.com - 08/03/2018, 17:17 WIB
Label di sebuah power bank. Satuan kapasitas, voltase baterai, dan rating energi ditandai garis bawa berwarna merah KOMPAS.com/ OIK YUSUFLabel di sebuah power bank. Satuan kapasitas, voltase baterai, dan rating energi ditandai garis bawa berwarna merah
Penulis Oik Yusuf
|

Untuk mendapatkan satuan Wh ini, kalikan angka kapasitas dengan voltase baterai powerbank (bukan keluaran port USB).
 
Misalnya, powerbank berkapasitas 10.000 mAh tadi memiliki voltase baterai 3,85 Volt (V), maka rating energinya adalah 38.500 mWh (miliwatt-hour) atau 38,5 Wh.

Satuan Wh biasanya sudah dinyatakan di keterangan tertulis di bodi powerbank. Apabila belum, maka pengguna bisa menghitung sendiri dengan cara di atas.


Kapasitas berbanding lurus dengan ukuran fisik powerbank. Semakin besar besar kapasitasnya, semakin besar pula bodi sang powerbank.

Memang ada segelintir pabrikan yang menawarkan model powerbank berkapasitas besar, hingga mencapai kisaran 26.800 mAh. Namun ini pun rating energinya masih berada di bawah angka 100 mAh (96,48 Wh) untuk kategori “baterai kecil” sehingga tak perlu izin khusus dari pihak maskapai.

Contoh label keterangan di power bank lain. Satuan kapasitas, voltase, dan rating energi ditandai garis bawah berwarna merah.KOMPAS.com/ OIK YUSUF Contoh label keterangan di power bank lain. Satuan kapasitas, voltase, dan rating energi ditandai garis bawah berwarna merah.

Ada pula produsen yang membuat powerbank raksasa sampai 41.600 mAh, namun masih masuk dalam batas (153,92 Wh) untuk kategori “baterai sedang” 100 Wh hingga 160 Wh. Demikian juga dengan baterai laptop yang biasanya masih dalam rentang kapasitas yang diperbolehkan.

Sebuah power bank dengan kapasitas 41.600 mAh (153,92). Ukurannya sangat besar dengan enam port USB.Luxa2 Sebuah power bank dengan kapasitas 41.600 mAh (153,92). Ukurannya sangat besar dengan enam port USB.
Baterai lithium berkapasitas besar di atas 160 Wh biasanya hanya digunakan di kendaraan seperti sepeda listrik atau skuter.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Perlu ditambahkan bahwa ketentuan IATA soal kapasitas baterai dan power bank mengacu pada batasan rating per unit, bukan angka kumulatif dari unit yang dibawa.

Tak ada batasan jumlah unit yang bisa dibawa untuk baterai kecil berkapasitas di bawah 100 Wh dalam keadaan tidak terpasang ke perangkat elektronik (misalnya, powerbank dan baterai cadangan untuk smartphone, kamera, atau laptop).

Sementara, untuk kategori baterai sedang 100 Wh hingga 160 Wh dibatasi maksimal 2 unit.

Rawan terbakar

Aturan otoritas penerbangan AS (FAA) yang menjadi acuan maskapai-maskapai di seluruh dunia menyatakan bahwa baterai lithium dalam keadaan terpisah dari perangkat elektronik dan powerbank harus dibawa ke dalam kabin, tidak boleh dalam bagasi check-in. Hal ini juga berlaku di Indonesia.

Baterai lithium dalam keadaan terpasang di perangkat elektronik (laptop, kamera, dan lain-lain kecuali e-cigarette dan vaporizer), menurut aturan FAA, boleh dibawa dalam bagasi check in asalkan perangkat yang bersangkutan dimatikan secara keseluruhan (bukan “sleep”) dan diamankan sehingga tak akan menyala tanpa sengaja.

Mangapa baterai lithium (lithium ion rechargeable dan lithium metal non-rechargeable) dilarang masuk bagasi check-in? Baterai dengan material kimia jenis ini sangat efisien dalam menyimpan daya sehingga banyak digunakan di perangkat elektronik modern, tapi juga rawan terbakar.

Beda baterai, beda perlakuan. Aturan FAA mensyaratkan kriteria khusus untuk baterai lithium lantaran dinilai lebih berbahaya.Federal Aviation Administration Beda baterai, beda perlakuan. Aturan FAA mensyaratkan kriteria khusus untuk baterai lithium lantaran dinilai lebih berbahaya.

Apabila baterai lithium ditaruh dalam kargo pesawat di bagasi check-in, maka tak ada orang yang bisa menyadari apabila tiba-tiba terbakar hingga api sudah membesar dan membahayakan penerbangan.

Di dalam kabin, kalaupun mendadak terbakar, paling tidak kejadiannya akan segera diketahui dan bisa ditindak oleh awak pesawat.

Misalnya saja seperti yang terjadi dalam penerbangan China Southern Airlines dari Guangzhou ke Shanghai akhir Februari lalu, di mana sebuah powerbank tiba-tiba dilalap api saat berada dalam tas di kompartemen overhead. (Baca: Video Kepanikan Penumpang Saat "Powerbank" Terbakar di Pesawat)

Berbeda dari baterai lithium, baterai Alkaline seperti yang umum berbentuk AA dan AAA, serta rechargeable berbasis Nickel Metal Hydride (NiMH) dan Nickel Cadmium (NiCad) kering boleh disimpan dalam bagasi check-in maupun di kabin.

Panduan selengkapnya dari FAA mengenai jenis baterai yang bisa dibawa di pesawat bisa dilihat di tautan ini. Selain itu, masing-masing maskapai biasanya juga memiliki kebijakan sendiri terkait barang-barang berbahaya yang boleh dibawa dan tidak boleh dibawa dalam penerbangan.

Baca juga : Cara Menghemat Baterai Ini Malah Bikin Android Boros

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X