Intel Bakal Beli Perusahaan yang Ingin Beli Qualcomm? - Kompas.com

Intel Bakal Beli Perusahaan yang Ingin Beli Qualcomm?

Kompas.com - 12/03/2018, 12:17 WIB
Papan nama Qualcomm Inc. di gedung kantornya di La Jolla, California, AS.Konrad Fiedler/Bloomberg Papan nama Qualcomm Inc. di gedung kantornya di La Jolla, California, AS.

KOMPAS.com - Broadcom masih ngotot mengejar Qualcomm untuk diakusisi, meski pinangannya senilai ribuan triliun rupiah sudah beberapa kali ditolak.

Belum lagi selesai urusan lamar-melamar itu, muncul kabar bahwa Broadcom mulai dibayang-bayangi raksasa chip lainnya, Intel. Produsen chip dunia itu dikabarkan tertarik meminang Broadcom, ibarat kisah cinta yang aneh dalam sebuah sinetron.

Tapi ada alasan logis di baliknya. Intel disinyalir mau mencaplok Broadcom lantaran perusahaan tersebut bakal menjadi pesaing besarnya, apabila jadi bergabung dengan Qualcomm.

Broadcom dan Qualcomm masing-masing memiliki nilai kapitalisasi pasar sekitar 100 miliar dollar AS, sehingga kombinasi keduanya bakal menjadi deal teknologi dengan nilai terbesar sejagat apabila terwujud.

Baca juga: Tak Kapok Ditolak, Broadcom Tawar Qualcomm Rp 1.700 Triliun

Gabungan Broadcom dan Qualcomm bakal menjadi rival kuat bagi Intel yang sama-sama bergerak di industri chip, dengan nilai kapitalisasi pasar sekitar 240 miliar dollar AS.

Seorang juru bicara Intel menolak berkomentar mengenai rencana akuisisi pihaknya atas Broadcom, tapi sekaligus menegaskan bahwa Intel memang sering mencaplok perusahaan lain.

“Kami telah membuat sejumlah akuisisi penting dalam 30 bulan terakhir -termasuk akuisisi terhadap Mobileye dan Altera,” sebut sang juru bicara, sebagaimana dirangkum KompasTekno dari CNBC, Senin (12/3/2018).

Broadcom terakhir menawar Qualcomm 121 miliar dollar AS (Rp 1.700 triliun) pada Februari lalu. Meski kembali ditolak, Broadcomm ngotot tetap mengejar Qualcomm.

Baca juga: Qualcomm Tolak Pinangan Rp 1.700 Triliun Broadcom

Pinangan Broadcom atas Qualcomm bermasalah karena bisa menimbulkan persoalan monopoli, terkait posisi keduanya yang kuat di industri teknologi chip dan komunikasi.

Tak kurang, US Treasury menyatakan kekhawatiran bahwa Broadcom yang berbasis di Singapura bisa saja menjual aset teknologi Qualcomm ke negara lain.

“Hasil kerja Qualcomm terlalu penting bagi keamanan nasional kita untuk dibiarkan jatuh ke negara asing,” ujar seorang senator AS asal Arkansas, Tom Cotton, dalam sebuah pernyataan.

Mengenai hal ini, Broadcom berjanji tak akan menjual aset Qualcomm ke negara lain apabila rencana akuisisi atas Qualcomm mendapat lampu hijau dari otoritas terkait di AS.


Komentar
Close Ads X