Riset Terbaru: Ponsel Tak Membunuh Manusia

Kompas.com - 12/03/2018, 19:06 WIB
ilustrasi penggunaan smartphone/ponsel moodboardilustrasi penggunaan smartphone/ponsel

KOMPAS.com - Berdasarkan hasil penelitian National Toxicology Program (NTP) Amerika Serikat, menunjukan bahwa penggunaan ponsel dalam jangka panjang tidak akan membunuh manusia secara langsung.

Kesimpulan dari penelitian berjudul "Cell Phones and Cancer Risk" ini, berkaitan dengan radiasi ponsel yang memicu sel kanker.

NTP menjelaskan, paparan energi radiofrekuensi yang dihasilkan ponsel, merupakan bentuk radiasi non-ionisasi.

Tak seperti radiasi ionisasi, radio frekuensi tidak menyebabkan kerusakan DNA yang dapat menyebabkan kanker.

Radiasi non-ionisasi secara konsisten menyebabkan efek biologis, yakni peningkatan suhu dalam jaringan. Sebab, jaringan yang berdekatan dengan antena ponsel akan menyerap energi radiofrekuensi.

NTP menggunakan tikus dalam percobaan paparan radiasi radiofrekuensi (RFR), yang dibagi menjadi dua kelompok, yakni yang terpapar RFR dan yang tidak.

Hasilnya, kedua kelompok tikus memiliki kesehatan yang sama. Beberapa tikus yang terpapar RFR dengan dosis tinggi, mampu bertahan hidup lebih lama dan sebagian lainnya mati lebih cepat.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Baca juga: 8 Cara Mengurangi Dampak Buruk Radiasi Ponsel

"Tidak ada bukti konsisten saat ini yang menunjukkan peningkatan risiko kanker akibat non-ionisasi", jelas senior peneliti NTP, Dr John Bucher seperti KompasTekno kutip dari New York Post, Senin (12/3/2018).

Tidak ada bukti konsisten

Penelitian yang dipublikasikan dalam situs resmi National Cancer Institute, juga menyertakan beberapa penelitian sebelumnya dari peneliti yang berbeda.

Senada dengan pernyataan Bucher, badan pengawas pangan dan obat-obatan AS (Food and Drug Administration) juga mengatakan jika sebagian besar penelitian epidemiologi manusia, gagal menunjukkan hubungan antara paparan RFR dan masalah kesehatan.

Setali tiga uang, European Comission Scientific Committee juga menunjukan tidak adanya peningkatan risiko tumor otak atau kanker lain di bagian kepala dan leher.

Mereka menambahkan, penelitian tersebut tidak mengindikasikan peningkatan risiko penyakit berbahaya, termasuk kanker pada anak-anak.

Namun, hasil penelitian berbeda justru ditemukan California Department of Public Health bulan Desember 2017 lalu.

Dirangkum KompasTekno dari Times, Senin (12/3/2018), penggunaan ponsel dalam jangka panjang dapat mengakibatkan beberapa jenis kanker dan akibat buruk lain bagi kesehatan.

Termasuk di antaranya kanker otak, tumor saraf akustik dan kelenjar ludah, penurunan produksi sperma, sakit kepala, penurunan konsentrasi belajar, penurunan daya ingat gangguan pendengaran, dan gangguan tidur.

Waspada aktivitas karsinogenik

Penggunaan ponsel dalam jangka panjang bukan tanpa efek buruk sama sekali. Bucher menyoroti adanya aktivitas karsinogenik yang dapat memicu risiko kanker ketika menggunakan ponsel, yang menghasilkan paparan RFR tinggi.

Namun, ada beberapa cara untuk menguranginya, seperti dipaparkan di halaman dua berikut ini.

1. Jangan dekatkan ponsel ke telinga

Jangan jejalkan ponsel ke telinga, terutama saat melakukan panggilan telepon. Sebisa mungkin jauhkan ponsel untuk mengurangi paparan radiasi.

Perkembangan teknologi hands-free yang memanfaatkan headset berkabel maupun nirkabel cukup pesat beberapa tahun belakang. Teknologi tersebut mampu mengurangi paparan RFR ke kepala dan otak.

American Cancer Society, juga menyarankan penggunaan earpiece dan mengurangi penggunaan ponsel, khususnya bagi anak-anak.

2. Jangan letakkan ponsel dekat kepala saat tidur

Letakkan ponsel cukup jauh dari Anda saat tidur. Hal ini untuk menekan radiasi dari ponsel ke daerah kepala dan otak.

Baca juga: Awas, Bahaya Radiasi Smartphone Mengintai Anak

3. Hindari menyimpan ponsel di saku

Sebisa mungkin simpanlah ponsel di dalam tas, alih-alih menyimpannya di saku baju atau celana untuk mengurangi paparan radiasi radiofrekuensi.

4. Kurangi penggunaan ponsel saat sinyal lemah

Misal, ketika sedang berkendara dengan kecepatan tinggi, di dalam bus atau kereta, atau sedang melakukan streaming musik atau video, atau sedang mengunggah dan mengunduh file.

Menurut California Department of Public Health, dalam keadaan sinyal lemah yang diakibatkan kegiatan di atas, energi radiofrekuensi yang dihasilkan ponsel akan lebih tinggi dibanding ketika sinyal berada dalam keadaan normal.

RFR juga dipancarkan ponsel ketika terhubung dengan WiFi atau Bluetooth, namun dalam tingkat yang lebih rendah.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.