Trump Larang Qualcomm Dijual ke Perusahaan Asing

Kompas.com - 13/03/2018, 08:15 WIB
Presiden AS Donald Trump berbicara terkait insiden penembakan di sekolah Florida, di Ruang Penerimaan Diplomatik Gedung Putih, Washington DC, Amerika Serikat, Kamis (15/2/2018). Sebelumnya pada Rabu, 14 Februari, terjadi insiden penmbakan di SMA Marjory Stoneman Douglas di Parkland, Florida, yang menewaskan 17 orang. AFP PHOTO/MANDEL NGANPresiden AS Donald Trump berbicara terkait insiden penembakan di sekolah Florida, di Ruang Penerimaan Diplomatik Gedung Putih, Washington DC, Amerika Serikat, Kamis (15/2/2018). Sebelumnya pada Rabu, 14 Februari, terjadi insiden penmbakan di SMA Marjory Stoneman Douglas di Parkland, Florida, yang menewaskan 17 orang.
Penulis Oik Yusuf
|

KOMPAS.com - Impian Broadcom meminang Qualcomm sepertinya harus kandas di tangan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Awal pekan ini, Trump secara khusus mengeluarkan executive order untuk melarang akuisisi tersebut.

Alasannya berkaitan dengan keamanan nasional. Trump mengatakan, ada “ancaman yang nyata” di balik rencana akuisisi Qualcomm oleh Broadcom. Broadcom merupakan perusahaan asing yang berbasis di Singapura dan Qualcomm adalah perusahaan AS yang memiliki sejumlah paten teknologi penting.

Apabila bisa mengendalikan Qualcomm lewat akuisisi, Trump menuding bahwa Broadcom akan melakukan langkah-langkah yang membahayakan keamanan nasional AS.

Executive order dari Trump tidak menjelaskan lebih lanjut mengenai apa persisnya ancaman terhadap keamanan nasional dari rencana akuisisi Qualcomm oleh Broadcom.

Baca juga: Intel Bakal Beli Perusahaan yang Ingin Beli Qualcomm?

Sebelummya sempat muncul kekhawatiran bahwa Broadcom bakal menjual teknologi Qualcomm ke pihak lain dari negara di luar AS,

Ada juga dugaan bahwa kinerja Qualcomm akan melemah di bawah Broadcom, sehingga para rivalnya seperti Huawei yang asal China bisa lebih dominan, terutama dalam pengembangan teknologi 5G di masa depan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Kekhawatiran ini pula yang menjadi perhatian Committee on Foreign Investment in the United States (CFIUS) yang menyusun rekomendasi untuk Trump soal recana akuisisi tersebut.

Februari lalu, Qualcomm menolak tawaran akuisisi senilai 121 miliar dollar AS atau sekitar Rp 1.700 triliun dari Broadcomm. Tapi Broadcom tak mau menyerah begitu saja dan tetap mengejar Qualcomm.

Broadcomm ingin mengganti susunan dewan direksi Qualcomm dengan orang-orang pilihannya lewat voting para pemegang saham. Akibatnya, Chairman sekaligus anak pendiri Qualcommm, Paul Jacobs kehilangan jabatannya pekan lalu.

Broadcom juga mengumumkan bakal memindahkan kantornya dari Singapura ke Amerika Serikat pada awal April. Langkah ini diduga untuk memuluskan jalannya mengambil alih Qualcomm, lantaran sudah mencium kecurigaan CFIUS.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.