Christopher Wylie, Mahasiswa Pengungkap Kebocoran Data Pengguna Facebook

Kompas.com - 23/03/2018, 10:01 WIB
Christopher Wylie, mantan pegawai Cambridge Analytica yang mengungkap pembocoran data pengguna Facebook Andrew Testa/The New York TimesChristopher Wylie, mantan pegawai Cambridge Analytica yang mengungkap pembocoran data pengguna Facebook

"Jika Anda ingin mengubah masyarakat, hancurkan dulu. Setelahnya, kumpulkan pecahan tersebut menjadi masyarakat baru sesuai visi Anda," imbuh mahasiswa PhD jurusan fashion trend forecasting ini.

Baca juga: Eks Pegawai Tidak Kaget Data Pengguna Facebook Dicuri Konsultan Pilpres

Wylie kemudian merancang Psychological Operation (Psyop), sebuah operasi untuk menyampaikan informasi tertentu, memengaruhi emosi audiens, memotivasi dan memberikan alasan obyektif.  Untuk menjajaki pemilih, mereka mengumpulkan data banyak orang untuk membangun profil psikologisnya.

"Kami menargetkan mereka bukan sebagai pemilih, namun sebagai personal politik", ujar Wylie.

Setelahnya, tim kreatif, desainer, videografer, dan fotografer membuat konten yang akan dikirim ke target—dalam hal ini adalah para calon pemilih—yang disebar ke internet.

Menciptakan situs, blog, dan konten apa pun, selama target bisa mudah mencarinya, mengkliknya, lalu membiarkan mereka masuk semakin dalam ke konstruksi yang dibangun melalui psikologi.

Wylie pun menjelaskan, jika cara ini berbeda dengan cara konservatif dengan narasi di depan umum.

"Anda bisa membisikkan ke setiap telinga target, bahkan membisikkan hal berbeda dari satu target ke target yang lainnya. Kami mengambil risiko untuk mem-framing masyarakat", imbuh Wylie.

Akun Facebook, WhatsApp, dan Instagram ditangguhkan

Dilansir KompasTekno dari CNBC, akun Facebook Wylie di-suspend atas kejadian ini. Ia mengklaim jika akun WhatsApp dan Instagram, yang juga berada di bawah Facebook, ikut ditangguhkan meskipun perwakilan WhatsApp sempat membantah hal ini.

Wylie menjelaskan konsekuensi membeberkan informasi pribadi di media sosial.

"Di media sosial, Anda mengurasi diri Anda sendiri, Anda menaruh banyak informasi tentang siapa diri Anda di satu tempat, yang dapat ditangkap dengan mudah lalu dijalankan melalui algoritma yang akan mempelajari siapa diri Anda," ujarnya.

Baca juga: Zuckerberg Akhirnya Angkat Bicara soal Kebocoran Data Facebook

 Wylie mengaku menyesal terjerumus dalam skandal ini.

"Saya menyesal. Perkara itu jelas tidak etis karena Anda memainkan psikologi semua negara bagian di AS tanpa mereka tahu dan mengerti," aku pria asal Kanada ini.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X