Pengguna Aktif Telegram Tembus 200 Juta, Pavel Durov Sindir Facebook - Kompas.com

Pengguna Aktif Telegram Tembus 200 Juta, Pavel Durov Sindir Facebook

Kompas.com - 24/03/2018, 08:18 WIB
Ilustrasi aplikasi TelegramIst Ilustrasi aplikasi Telegram
KOMPAS.com - Aplikasi chatting Telegram diklaim telah memiliki 200 juta pengguna aktif. Hal ini dinyatakan langsung oleh pendiri Telegram Pavel Durov melalui blog resmi perusahaan.

Durov mengatakan pencapaian tersebut dilakukan tanpa promosi, semua dilakukan oleh pengguna Telegram. Pria yang kerap berkaos hitam ini juga mengucapkan apresiasi kepada seluruh pengguna Telegram atas pencapaian. Baca juga : Mengamati Gerakan Santai Berkaus Para Bos Perusahaan Teknologi)

Uniknya, dalam pernyataan tersebut Durov juga menyindir Facebook, meski tidak secara gamblang, soal kasus kebocoran data pengguna dan digunakan konsultan politik Trump dalam pilpres 2016 lalu.

 
"Berbeda dengan aplikasi populer lainnya, kami tidak memiliki stakeholder maupun pengiklan. Kami juga tidak berkepentingan dengan para pemasar, para penggali data dan lembaga pemerintah. Sejak pertama kali diluncurkan kami tidak membagikan data sedikit pun pada pihak ketiga," ungkap Pavel sebagaimana dikutip KompasTekno dari halaman resmi Telegram, Sabtu (24/3/2018).
 
Memang, Telegram dikenal sebagai aplikasi obrolan yang sangat ketat dalam privasi data. Telegram sangat menjaga kerahasiaan pengguna sampai-sampai aplikasi ini menjadi favorit jaringan teroris sebagai alat komunikasi. 
 
Sejak awal berdiri, layanan chatting ini mengedepankan diri sebagai platform yang aman dari intipan luar. Telegram memiliki fitur enkripsi end-to-end yang dapat mencegah pesan dicegat dan dibaca kecuali oleh pengirim dan penerima. 
 
Selain itu fitur channel pada Telegram bersifat terbuka untuk publik dan bebas diikuti oleh pengguna. Karena itulah channel ini seringkali disalahgunakan oleh pelaku terorisme untuk menyebar propaganda. 
 
Keunikan inilah yang diklaim membuat Telegram dapat mengantongi 200 juta pengguna aktif tanpa harus diperkenalkan melalui iklan manapun. 
 
"Kami beroperasi dengan cara ini. Kami tidak menganggap Telegram sebagai organisasi atau aplikasi. Telegram adalah sebuah ide, itu adalah gagasan setiap orang di planet ini yang memiliki hak untuk bebas," tulis Pavel. 
 
Kendati demikian jumlah 200 juta pengguna aktif ini memang masih sangat jauh jika dibandingkan dengan WhatsApp. WhatsApp kini telah mencapai lebih dari satu miliar pengguna aktif. 
 
Telegram sendiri pada awalnya dibuat atas bentuk kritik pada pemerintahan Rusia. Telegram dibuat agar ada jalur komunikasi aman yang tidak dapat ditembus badan intelijen Rusia.


Baca juga : Telegram dan WhatsApp Sama-sama Pakai Enkripsi, Apa Bedanya?

Komentar
Close Ads X