Drone Ciptaan Mahasiswa Indonesia Bantu Tugas Petani

Kompas.com - 05/04/2018, 09:25 WIB
Mahasiswa Inggris asal Indonesia, Ishak Hilton Pujantoro Tnunay, Muhamad Randi Ritvaldi, Anindita Pradana Suteja, dan Albertus Gian dalam ajang Imagine Cup 2018 yang diselenggarakan Microsoft di Kuala Lumpur, Malaysia, Rabu (4/4/2018). KOMPAS.com/NIBRAS NADA NAILUFARMahasiswa Inggris asal Indonesia, Ishak Hilton Pujantoro Tnunay, Muhamad Randi Ritvaldi, Anindita Pradana Suteja, dan Albertus Gian dalam ajang Imagine Cup 2018 yang diselenggarakan Microsoft di Kuala Lumpur, Malaysia, Rabu (4/4/2018).

KOMPAS.com - Tiga mahasiswa Universitas Manchester asal Surabaya menciptakan BeeHive Drone, teknologi drone untuk pertanian. Ketiga mahasiswa ini tampil mewakili Indonesia dalam Imagine Cup X 2018 tingkat regional, kompetisi mahasiswa yang diselenggarakan Microsoft di Kuala Lumpur, Malaysia, Rabu (4/4/2018).

BeeHive Drone yang dikembangkan oleh Ishak Hilton Pujantoro Tnunay dan Muhamad Randi Ritvaldi ini dirancang untuk mengerjakan tugas petani sehari-hari lewat aplikasi ponsel. Anindita Pradana Suteja yang berperan sebagai analis bisnis BeeHive menjelaskan, tugas yang bisa dilakukan BeeHive Drone antara lain pengecekan dan analisis tanaman hingga penyiraman air, pupuk, atau pestisida.

"Drone kami bisa melalukan perawatan sesuai kebutuhan masing-masing tanaman," ujar Anindita dalam presentasinya kepada juri Imagine Cup.

Anindita menjelaskan Drone yang kedua rekannya rakit sendiri ini bisa menjangkau sawah dalam radius tiga kilometer. Para mahasiswa ini merancang agar drone "diparkir" di stasiun drone yang berada di tengah-tengah kawasan pertanian.

Para petani atau pemilik sawah bisa mendaftarkan sawah mereka di aplikasi mobile, memilih layanan perawatan, dan membayar layanan itu lewat aplikasi yang sama.

Setelah terkonfirmasi, drone ini akan terbang tanpa perlu awak untuk mengontrolnya ke sawah yang memesan layanan.

"Penyemprotan pupuk dan pestisida bisa lebih efisien, misalnya kalau bagian ini hanya butuh 30 persen penyubur tapi ladang sebelahnya butuh 50 persen, maka drone akan menyemprot sesuai yang dibutuhkan," ujar Anindita.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Baca juga: ?Drone? Bisa Bantu Atasi Mati Lampu

Dalam hitung-hitungan para mahasiswa ini, petani menghabiskan sekitar Rp 1.000.000 per hektar untuk pestisida. Anindita mengatakan dengan Beehive Drone, para petani diperkiraka bisa mengurangi biaya sebesar Rp 300.000. Ia mengklaim penyemprot ini canggih dan dilengkapi dengan peringatan dini. Selain itu, drone ini bisa memangkas waktu dan tenaga kerja karena mampu menggarap hingga 486,9 persen per jam.

Kembangkan untuk sawit

Albertus Gian, pendiri sekaligus mentor tim BeeHive Drone menjelaskan keinginan awal menciptakan drone ini sebenarnya datang dari kebingungan para mahasiswa di akhir masa studinya. Gian baru menyelesaikan master di bidang advanced material science and engineering dari Imperial College London.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.