Aplikasi Cek Kesehatan Tanaman Buatan Bandung Dilombakan di Malaysia

Kompas.com - 05/04/2018, 14:20 WIB
ahasiswa asal Institut Teknologi Bandung (ITB) Febi Ifdillah, Ahmad Ghifari, dan Harry Kefas di kompetisi Imagine Cup 2018 yang diselenggarakan Microsoft di Kuala Lumpur, Malaysia, Rabu (5/4/2018). KOMPAS.com/NIBRAS NADA NAILUFARahasiswa asal Institut Teknologi Bandung (ITB) Febi Ifdillah, Ahmad Ghifari, dan Harry Kefas di kompetisi Imagine Cup 2018 yang diselenggarakan Microsoft di Kuala Lumpur, Malaysia, Rabu (5/4/2018).

KOMPAS.com - Tiga mahasiswa asal Institut Teknologi Bandung (ITB) mewakili Indonesia dalam ajang kompetisi mahasiswa, Imagine Cup 2018 yang diselenggarakan Microsoft di tingkat Asia Pasifik. Mereka adalah Febi Ifdillah, Ahmad Ghifari, dan Harry Kefas.

Ketiganya menciptakan aplikasi ponsel Dr Tania yang bisa mendiagnosa kesehatan tanaman pertanian lewat foto. Febi bercerita ide ini sebenarnya muncul pada 2016 ketika ia mengikuti kompetisi ide di kampus. Namun karena sibuk kuliah, ide ini pun belum sempat dikembangkan secara serius.

"Waktu itu idenya juga sempat pakai drone tapi impossible. Ya kami coba agak realistis pakai mobile App aja. Kemudian dilombain di beberapa perlombaan," kata Febi di Kuala Lumpur, Malaysia, Rabu (4/4/2018).

Keinginan untuk terus mengikuti lomba membawa Febi dan kawan-kawan bertanding di Imagine Cup 2018. Sebenarnya ada dua mahasiswa lagi yang mengembangkan aplikasi ini, namun tak bisa ikut dalam tim untuk Imagine Cup.

Baca juga: Drone Ciptaan Mahasiswa Indonesia Bantu Tugas Petani

Setelah lolos di tingkat nasional, ketiga mahasiswa ini harus mempresentasikan aplikasi mereka di hadapan para juri dan kontestan lain se-Asia Pasifik. Ketiganya juga mendemonstrasikan bagaimana Dr Tania berpotensi membantu para petani.

Para petani bisa mengunduh aplikasi di ponsel mereka, memotret tanaman, dan mendapat hasil yang dijamin akurat.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Petani mendapatkan hasil lewat chat dengan Dr Tania," ujar Febi.

Tampak visual dari foto ini digabungkan dengan hasil sensor asam (pH) dan kelembapan (humidity) dari perangkat mungil yang ditanam di tanah. Mesin deep learning yang mereka rancang dengan cepat memberikan analisis yang akurat beserta sederet katalog obat-obatan penyembuhnya.

Para juri sempat meragukan fungsi aplikasi ini. Juri bertanya apakah petani tradisional yang notabene sudah berpengalaman, membutuhkan aplikasi untuk mendiagnosa tanaman mereka.

Baca juga: Drone dan Aplikasi Pertanian Indonesia Berlaga di Malaysia

Febi dan kawan-kawannya yang bekerja sudah bekerja sama dengan komunitas tani di Bandung mengatakan aplikasi ini tetap dibutuhkan petani di tengah perubahan iklim

"Kami coba ubah kebiasaan menduga-duga, kami bantu dari sisi decision making," kata Febi.

Mereka berharap aplikasi ini lolos seleksi regional dan bisa membawa mereka bertanding melawan mahasiswa di seluruh dunia di tingkat global, yang diselenggarakan di Seattle, Amerika Serikat, Juni 2018 mendatang.

Sebelum ini, mereka juga sudah memenangkan World Invention and Technology Expo (WINTEX) 2018. Setelah menerima banyak masukan dan perbaikan, aplikasi ini rencananya bisa dikomersilkan untuk umum.



Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X