Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Facebook Lambat Hapus Propaganda di Myanmar, Zuckerberg Minta Maaf

Kompas.com - 11/04/2018, 12:11 WIB
Wahyunanda Kusuma Pertiwi,
Reska K. Nistanto

Tim Redaksi

Sumber ENGADGET

KOMPAS.com - Enam organisasi sipil yang terdiri atas aktivis di Myanmar mengecam Facebook. Mereka menganggap platform yang dinakhodai Mark Zuckerberg, menjadi biang keladi tersebarnya propaganda bernuansa hate-speech yang tersebar luas di Facebook, September 2017 lalu.

Konten surat itu berisikan peringatan bagi para pemeluk Budha, bahwa Muslim akan menyerang mereka. Sementara itu, konten lain juga menyebut jika Muslim diharapkan bersiap untuk menghadapi militan Budha.

Kabar tersebut menyebabkan kepanikan meluas di Myanmar. Dalam sebuah kesempatan wawancara, CEO Facebook, Mark Zuckerberg justru menjadikan insiden rantai hate-speech tersebut, sebagai contoh.

Ia mengklaim jika dalam kasus tersebut, sistem di Facebook telah mendeteksi dan menghapus pesan-pesan bernada hate-speech. Kubu aktivis justru menganggap, sebelum dihapus, mereka harus membombardir Facebook dengan menandai dan me-report konten-konten tersebut berulang kali.

Barulah setelahnnya, pegawai Facebook menyetop peredaran konten tersebut yang kadung tersebar luas.

Baca juga: Facebook Diminta Hapus Posting Ujaran Kebencian

Para aktivis pun akhirnya mengirim surat ke Zuckerberg dan mengutuk ketergantungan Facebook akan pihak ketiga, kurangnya mekanisme yang tepat saat menghadapi eskalasi darurat, keengganan untuk melibatkan para pemangku kebijakan lokal di sekitar solusi sistematis, dan kurangnya transparasi oleh Facebook.

Minta maaf

Zuckerberg pun meminta maaf secara pribadi atas penjelasannya tentang peran organisasi para aktivis tersebut, sebelum edaran konten hatespeech dihapus Facebook.

Ia mengatakan bahwa dirinya bermaksud untuk menyoroti bagaimana Facebook membangun kecerdasan buatan (AI) untuk membantu megidentifikasi konten yang kasar, penuh kebencian, dan juga konten palsu, lebih baik lagi sebelum konten tersebut ditandai oleh pengguna.

Dirinya juga menambahkan bahwa Facebook telah menambahkan peninjau konten berbahasa Burma dan juga menambah orang-orang di Facebook yang berkaitan dengan isu yang sedang terjadi di Myanmar.

Agaknya tanggapan Zuckerberg masih belum sepenuhnya memuaskan para aktivis di Myanmar.

Baca juga: Beredar Ajakan Boikot Facebook, WhatsApp, Instagram pada 11 April

Mereka menganggap, apa yang dijanjikan Zuckerberg tak ubahnya dengan janji-janji sebelumnya untuk berbuat lebih banyak lagi dalam mengatasi konflik etnis yang semakin memanas di negara itu, yang ujung-ujungnya urung ditepati.

Hal ini juga disampaikan oleh kepala The Phandeeyar Myanmar Innovation Lab yang berbasis di Myanmar, Jes Peterson.

"Sangat bagus jika dia melibatkan dirinya secara personal dengan masalah ini", jelasnya seperti KompasTekno himpun dari Engadget, Rabu (11/4/2018).

"Tapi, hal-hal yang dibicarakannya benar-benar tidak jauh berbeda dengan yang dikatakannya selama beberapa tahun terakhir", terang Peterson.

Peterson juga menganggap jika puluhan pengulas konten Myanmar yang disebutkan Zuckerberg, tak akan memotong edaran konten kebencian.

Baca juga: Facebook Kebobolan Lagi, Data 50 Juta Akun Diduga Bocor

Sorotoan tentang mudahnya konten hate-speech beredar di platform Facebook pun disuarakan oleh aktivs negara berkembang lain, termasuk Indonesia, Filipina dan Sri Lanka.
Mereka juga gencar menyuarakan gerakan melawan berita bohong atau hoaks.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Sumber ENGADGET
Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com