"Twitter-nya China" Diprotes setelah Blokir Konten Homoseksual - Kompas.com

"Twitter-nya China" Diprotes setelah Blokir Konten Homoseksual

Kompas.com - 17/04/2018, 12:39 WIB
Ilustrasi smartphoneShutterstock Ilustrasi smartphone

KOMPAS.com - Upaya media sosial China, Weibo dalam memberantas konten negatif di platform-nya mendapat protes dari pengguna. Pasalnya Weibo yang serupa Twitter buatan China itu turut memberangus konten-konten berbau homoseksual. Hal itu dianggap netizen China sebagai tindakan diskriminasi.

Ini berawal saat Weibo menghapus sebuah postingan yang berkaitan dengan budaya gay di sana. Mengetahui postingan tersebut dihapus, para pengguna membanjiri media sosial itu dengan tagar #IamGayNotaPervert. Para pengguna berdalih tindakan Weibo sudah terlalu jauh dan berlebihan, sehingga protes keras ini dilakukan.

Selain melalui tagar, mereka juga melayangkan protesnya dengan memposting swafoto (selfie) diiringi dengan kata-kata "saya gay" dan emoticon pelangi. Slogan "mulut saya bisa diredam tapi cinta saya tidak bisa," pun muncul dari akun para aktivis.

"Sangat mudah memperburuk diskriminasi publik terhadap minoritas seksual," ujar Ma Baoli, pendiri aplikasi kencan gay Blued, sebagaimana dikutip KompasTekno dari The New York Times, Selasa (17/4/2018).

Di China memang tak ada regulasi yang menyebutkan bahwa hubungan sesama jenis atau homoseksual adalah tindakan ilegal. Namun, masih ada budaya konservatif yang memandang rendah orang yang berhubungan sesama jenis. Bahkan beberapa buku menggambarkan homoseksualitas sebagai gangguan psikologis.

Baca juga: Bos Apple Mengaku Gay, Patung Steve Jobs Jadi Korban

Kendati demikian, China masih memiliki konstitusi dan hukum terkait perlindungan kaum minoritas, di mana para pencinta sesama jenis ini masih bisa masuk ke dalamnya.

Hukum cybersecurity

Tindakan yang dilakukan oleh Weibo ini sejatinya adalah upaya untuk mengikuti regulasi dari pemerintah setempat. Di bawah kepemimpinan Presiden Xi Jinping, China memang berupaya untuk memberangus konten-konten yang dianggap negatif dan ofensif di internet, salah satunya adalah pornografi.

Presiden Xi Jinping melalui aturan cybersecurity mengeluarkan aturan ketat terhadap konten-konten yang diproduksi di dunia maya. Bahkan lewat aturan tersebut, pemerintah China bisa menghukum siapa saja yang memproduksi konten tak sesuai aturan. Namun oleh pengamat, hukum ini disebut memiliki pasal karet.

"Hukum cybersecurity ditulis begitu luas sehingga memberi celah bagi mereka yang berwenang untuk mengklaim bahwa mereka telah bertindak sesuai hukum yang berlaku," ujar Paul Triolo, seorang analis kebijakan di sana.

Meski begitu, Weibo sendiri sepertinya masih memertimbangkan kelanjutan kampanye ini. Perusahaan memang menyatakan tengah mencoba membatasi penyebaran konten seksual dan kekerasan dengan menargetkan gambar, teks, serta video.

Perlu diketahui bahwa Weibo adalah media sosial lokal China yang menyerupai Twitter. Pengguna bisa memposting segala macam konten mulai dari foto, video hingga animasi GIF lewat akunnya.


Komentar
Close Ads X