Kompas.com - 15/05/2018, 07:35 WIB

SINGKAWANG, KOMPAS.com - Salah satu alasan operator seluler enggan membangun jaringan di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) adalah biaya yang mahal, mengingat banyaknya infrastruktur yang harus dibangun jika ingin menjangkau daerah tersebut.

Namun, rampungnya proyek Palapa Ring Paket Barat pada Jumat (11/5/2018) lalu itu dipercaya dapat menekan pengeluaran operator seluler. Pasalnya pemerintah bukan hanya menyediakan infrastruktur, namun juga menjanjikan potongan harga bagi operator yang ingin memakai kabel fiber optik ini.

Menurut Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo), Rudiantara, pemanfaatan selanjutnya dari proyek Palapa Ring Paket Barat ini bergantung sepenuhnya pada operator, termasuk apakah mereka akan membangun BTS sendiri, atau menumpang ke BTS lain yang sudah dibangun.

Namun seharusnya, dengan adanya fasilitas Palapa Ring, operator mau berlomba-lomba untuk segera memperluas jaringan seluler mereka di wilayah 3T.

"Pemanfaatnya selanjutnya Palapa Ring ini oleh operator. Mereka tidak mau membangun daerah ini karena dianggap mahal. Salah satu yang bikin mahal, adalah backbone," ungkap Rudiantara saat meninjau Palapa Ring Paket Barat di Singkawang, Senin (14/5/2018). 

Baca juga: Palapa Ring Timur Diharapkan Menarik Indosat dan XL Masuk Papua

Jalur Palapa Ring Paket Barat yang telah rampung dibentangkan pada 11 Maret 2018.KOMPAS.com/Gito Yudha Pratomo Jalur Palapa Ring Paket Barat yang telah rampung dibentangkan pada 11 Maret 2018.
"Sekarang backbone-nya sudah dibangun oleh pemerintah. Dikasih diskon juga, kan uangnya dari USO. Jadi istilahnya ini adalah insentif fiskal kepada operator agar mereka membangun lebih cepat dan luas," lanjutnya.

Menurut pria yang akrab disapa Chief RA itu, jika dihitung-hitung, selesainya proyek Palapa Ring Paket Barat ini bakal menekan banyak pengeluaran yang harus dibayarkan operator untuk memperluas jangkauan jaringan mereka.

Pasalnya jika Palapa Ring ini tidak dibuat, maka operator harus mengeluarkan biaya untuk menggunakan satelit atau microwave yang notabene lebih mahal, dengan kapasitas serta kemampuan yang lebih kecil.

"Dari backbone-nya sudah ada, mereka tinggal tarik kabel dari landing station ke BTS. Jadi lebih murah. Kalo tidak, mereka harus menggunakan satelit atau narik kabel optik sendiri, atau menggunakan microwave, yang mahal dan kapasitasnya sedikit, ungkap Rudiantara. 

Proyek infrastruktur telekomunikasi Palapa Ring ini sendiri adalah fasilitas yang menggunakan jaringan serta optik di 57 kabupaten/kota dan wilayah 3T untuk mendukung pemerataan internet cepat di Indonesia.

Baca juga: Perjuangan Menggelar Kabel Proyek Palapa Ring Timur di Papua

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.