Peluang dan Tantangan Industri E-Sport di Indonesia

Kompas.com - 25/05/2018, 20:17 WIB
Seorang anak sedang mencoba bermain game Wahyunanda Kusuma Pertiwi/Kompas.com Seorang anak sedang mencoba bermain game

KOMPAS.com - Aktivitas bermain game sudah bertransformasi menjadi olahraga elektronik bertajuk eSport. Di Indonesia, gaming resmi menjadi cabang olahraga, ditandai dengan berdirinya Indonesia eSPort Association (IeSPA) tahun 2014.

Pamor eSport sebagai cabang olahraga akan naik daun, seiring masuknya eSport di Asian Games 2018 yang akan diselenggarakan di Jakarta dan Palembang bulan Agustus mendatang.
Meskipun masih dalam skema eksibisi, alias tanpa medali.

" esport di Asian Games, harusnya bisa jadi katalis, kalau diselenggarakan dengan baik dan benar," jelas pengamat gaming dan eSport, Dedy Irvan.

Olahraga ini memang belum sepopuler cabang olahraga lain di Indonesia, namun perkembangannya cukup pesat. Di ranah global, posisi Indonesia dalam pasar industri gaming menempati urutan ke-16 pada 2017.

Tercatat 43,7 juta gamer yang menghasilkan pendapatan 879,7 juta dollar AS, menurut paparan data dari Newzoo. Marketing Director Intel ANZ & South East Asia, Anna Torres mengatakan, industri gaming di Indonesia selalu berkembang.

Ia juga satu suara dengan Dedy, jika Asian Games akan membuat eSport lebih dikenal masyarakat Indonesia, seperti yang telah dilakukan negara-negara tetangga seperti Thailand atau Filipina.

eSport tak hanya menarik untuk dimainkan saja, tapi juga mendatangkan animo penonton yang luar biasa yang disemarakan dengan penampilan cosplayer karakter game populer.

Dalam acara workshop karir yang diselengggarakan Intel Indonesia di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Kamis (24/5/2018), Pembimbing Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UNY, Deny Budi Hertanto mengatakan, eSport memiliki peluang untuk dikelola secara akademik, seperti mendirikan Fakultas Gaming suatu saat nanti.

Baca juga: Menakar Potensi eSport di Indonesia

"Peluanganya akan cukup besar nanti ke depannya. Tapi kita harus melihat dulu, kalau pasar butuh dengan sendirinya kita akan buka," jelasnya kepada KompasTekno.

Tantangan

Salah satu tantangan terbesar perkembangan eSport di Indonesia adalah perbedaaan pandangan antara generasi milenial dan generasi tua soal eSport. Masih subur di masyarakat Indonesia memandang eSport sekadar hobi main game pengisi waktu luang, bukan olahraga yang bisa ditekuni secara profesional.

Menurut Dedy, eSport berbeda dengan main game, seperti yang dipersepsikan.

"Main game itu rekreasi, eSport itu profesi. Ini satu perbedaan," jelas Dedy.

Halaman Berikutnya
Halaman:
Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X