Palapa Ring Barat Belum Dilirik Penyedia Internet - Kompas.com

Palapa Ring Barat Belum Dilirik Penyedia Internet

Kompas.com - 07/06/2018, 18:23 WIB
Proses penggelaran selubung HDPE untuk pelindung kabel serat optik Palapa Ring Timur menggunakan mesin Vermeer di jalur antara Teluk Bintuni - Manokwari, Sabtu (12/5/2018).KOMPAS.com/Yoga H. Widiartanto Proses penggelaran selubung HDPE untuk pelindung kabel serat optik Palapa Ring Timur menggunakan mesin Vermeer di jalur antara Teluk Bintuni - Manokwari, Sabtu (12/5/2018).

KOMPAS.com - Pada Maret lalu, Palapa Ring Paket Barat sudah rampung dan siap beroperasi. Proyek infrastruktur telekomunikasi itu menghubungkan sejumlah kabupaten dan kota di Pulau Sumatera dan Kalimantan dengan kabel serat optik yang membentang sepanjang 1.980 kilometer.

Seiring dengan kesiapan Palapa Ring Barat, Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengungkapkan bahwa sudah ada beberapa pihak yang melakukan uji coba penggunaan.

Dia tidak merinci siapa saja yang sudah melakukan uji coba Palapa Ring Barat. Hanya saja, Rudiantara menambahkan bahwa mereka baru berasal dari kalangan operator telekomunikasi. Sejauh ini belum ada penyedia jasa internet ( ISP) yang ikut serta.

"Mungkin karena teman-teman ISP belum tahu detail. Padahal secara komersil diberikan insentif. Kalau pakai Palapa Ring, harga lebih murah dengan diskon untuk mempercepat pembangunan," ujar Rudiantara ketika ditemui usai acara pelantikan pengurus baru Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) periode 2018-2021 di Jakarta, Rabu (6/6/2018).

Pemerintah memang menawarkan diskon sewa di bawah harga pasar untuk infrastruktur backbone Palapa Ring di semua paket, yakni untuk wilayah Barat, Tengah, dan Timur, sebagai insentif untuk mempercepat pembangunan. Mekanisme sewanya sendiri bisa berupa penyewaan bandwidth atau dark fibre (pengoperasian jaringan secara privat).

Besarnya diskon menyesuaikan dengan jumlah pihak yang menyewa jaringan di suatu wilayah. Misalnya, semakin sedikit operator yang menyewa, maka diskon akan semakin besar. Sebaliknya, jika jumlah operator semakin banyak, maka diskon semakin kecil.

Menanggapi hal ini, Ketua Umum APJII, Jamalul Izza menyatakan para ISP anggotanya sebenarnya antusias dengan proyek Palapa Ring. Hanya saja, karena baru beroperasi di beberapa titik, pelaku bisnis ISP disebutnya masih perlu mempelajari sejumlah faktor teknis dan bisnis.

“Saya yakin pasti teman-teman anggota akan menggunakan Palapa Ring. Sebagian besar tertarik melebarkan bisnis ISP ke beberapa daerah,” ujar Jamalul.

Jadwal penyelesaian Palapa Ring Tengah dan Barat

Selain Paket Barat, pembangunan Palapa Ring Paket Tengah dan Timur sedang dikerjakan dan ditargetkan sudah operasional pada akhir tahun ini.

Palapa Ring Paket Tengah menjangkau 17 kota dan kabupaten di Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara, dan Maluku Utara dengan kabel serat optik sepanjang 2.467 kilometer.

Peta pembagian wilayah proyek Palapa Ring di seluruh wilayah IndonesiaKOMPAS.com/ KURNIASIH BUDI Peta pembagian wilayah proyek Palapa Ring di seluruh wilayah Indonesia

Rudiantara mengungkapkan tahap penyelesaian Palapa Ring Tengah kini mencapai 77 persen, dan ditargetkan sudah rampung pada bulan September mendatang.

Sementara itu, Palapa Ring Paket Timur menjangkau 35 kabupaten dan kota di wilayah Nusa Tenggara Timur, Maluku, Papua Barat, hingga pedalaman Papua dengan kabel serat optik sepanjang 8.454 kilometer.

Progress pengerjaan Palapa Ring Timur, menurut Rudiantara, saat ini telah mencapai kisaran 46 persen dan ditargetkan selesai pada penghujung 2018.

Baca juga: Palapa Ring Barat Rampung, Operator Bisa Bangun Jaringan Lebih Murah

"Jadi akhir tahun nanti tidak ada kabupaten atau kotamadya yang tidak terhubung ke broadband," ujar Rudiantara.

Khusus untuk Palapa Ring Timur, kabel serat optik yang digunakan merupakan buatan dalam negeri di Cilegon dengan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) mencapai 30 persen.

"Last mile" daerah 3T dibangun pemerintah

Rudiantara menjelaskan, jaringan Palapa Ring merupakan backbone telekomunikasi. Untuk prasarana last mile yang menghubungkan dengan konsumen akhir, seperti Base Transceiver Station (BTS), perlu dibangun sendiri oleh operator penyewa.

Soal last mile ini ada pengecualian untuk daerah-daerah kategori 3T (Terdepan, Terluar, dan Tertinggal) yang dinilai tidak feasible secara bisnis untuk operator.

Dalam hal ini, Kementerian Komunikasi dan Informatika lewat Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informatika (Bakti, dulu BP3TI) lah yang akan menyediakan prasarana last mile.

"BTS yang sudah dibangun sekarang sudah 800-an. Sampai akhir tahun depan akan dibangun lagi kurang lebih 4.000 BTS. Itu untuk daerah-daerah yang remote," ujar Rudiantara.

Soal last mile yang harus dibangun sendiri ini, menurut Ketua Umum APJII Jamalul Izza, menjadi salah satu kendala bagi ISP karena harus menunggu ketersediaan prasarana dari penyedia jaringan.

Sementara, penyedia jaringan juga memiliki pertimbangan bisnis sendiri sebelum membangun last mile di satu titik.

“Kalau cuma ada satu penyedia jaringan yang punya ketersambungan dengan Palapa Ring, akhirnya harga bisa tinggi untuk menyewa last mile tersebut,” kata Jamalul.



Close Ads X