Zuckerberg Dikecam karena Biarkan "Holocaust Denier" di Facebook

Kompas.com - 20/07/2018, 12:25 WIB
CEO Facebook Mark Zuckerberg saat memberikan kesaksian di depan senat atas skandal kebocoran data pengguna Facebook oleh Cambridge Analytica.Brendan Smialowski / AFP CEO Facebook Mark Zuckerberg saat memberikan kesaksian di depan senat atas skandal kebocoran data pengguna Facebook oleh Cambridge Analytica.

KOMPAS.com - Mark Zuckerberg kembali mendapat sorotan dunia. Bukan soal kebocoran data, namun soal komentarnya yang mengizinkan pengguna Facebook untuk tidak mempercayai adanya peristiwa Holocaust (holocaust denial).

Holocaust sendiri adalah peristiwa pembantaian besar-besaran atau genosida yang dilakukan oleh Jerman pada kaum Yahudi di Perang Dunia Kedua. Menurut sejarah, pembantaian ini memakan jutaan korban jiwa.

Kejadian ini memang sangat sensitif untuk dibahas. Pasalnya ada dua kubu yang seringkali memperdebatkan apakah Holocaust ini nyata atau sekadar rekayasa. Kubu yang menyangkal peristiwa tersebut kerap disebut holocaust denier ini berseliweran di media sosial termasuk Facebook.

Zuckerberg sendiri dalam sebuah wawancara dengan Recode mengatakan bahwa Facebook tidak akan melarang dan menghapus unggahan pengguna tentang ketidakpercayaan terhadap kejadian Holocaust. Komentar inilah yang kemudian "memanaskan" banyak pihak.

"Penyangkalan peristiwa Holocaust adalah taktik penipuan yang disengaja oleh orang-orang yang mengancam Yahudi," ungkap Jonathan Greenblatt, National Director dari Anti-Defamation League, organisasi yang memperjuangkan nasib kaum Yahudi.

"Facebook memiliki kewajiban moral dan etis untuk tidak mengizinkan penyebarnya," lanjutnya.

Di Jerman, penyangkalan adanya peristiwa Holocaust bahkan bisa dikategorikan sebagai tindak pidana. Pasalnya sejarah ini tentu melibatkan Jerman di mana kaum Nazi dan Hitler sebagai orang yang memerintahkan genosida berasal.

"Antisemitisme tidak akan pernah bisa diberi ruang. Tidak ada yang harus membela seseorang yang menyangkal adanya peristiwa Holocaust. Sebaliknya, segalanya harus dilakukan di seluruh dunia untuk melindungi kehidupan Yahudi," ungkap Menteri Luar Negeri Jerman, Heiko Maas.

Facebook sampai saat memang diketahui telah cukup lama mentolerir orang-orang yang tak percaya dengan kejadian Holocaust, kecuali di mana konten tersebut ilegal seperti Jerman.

Kendati mendapat banyak kecaman, Zuckerberg masih ingin mencari jalan tengah agar Facebook tetap bisa menjadi wadah untuk orang-orang bisa bebas berpendapat. Ia pun sepertinya akan tetap memertahankan kebijakan tersebut.

"Saya pribadi menemukan penyangkalan atas peristiwa Holocaust memang sangat menyinggung, dan saya benar-benar tidak bermaksud untuk membela orang-orang yang menyangkal kejadian itu," ungkap Zuckerberg.

Dalam wawancara dengan Recode, Zuckerberg menggambarkan adanya perbedaan antara pengguna yang menyebarkan informasi palsu dengan maksud melecehkan orang lain, dengan pengguna yang menyebarkan informasi salah.

Menurutnya, informasi palsu dengan tujuan merendahkan atau memfitnah orang lain akan dihapus oleh Facebook. Sedangkan jenis unggahan yang kedua, tidak akan dihapus begitu saja kecuali lewat berbagai pertimbangan.

"Saya Yahudi dan ada sekelompok orang yang menyangkal bahwa Holocaust pernah terjadi. Saya melihat itu sangat ofensif. Namun pada akhirnya saya percaya platform kami tidak harus menghapusnya," ungkap Zuckerberg.

"Saya tidak berpikir bahwa mereka melakukan kesalahan itu dengan sengaja," lanjutnya.

Dikutip KompasTekno dari Bloomberg, Jumat (20/7/2018), komentar inilah yang mendapat kecaman banyak pihak. Bahkan Zuckerberg dianggap tidak bertanggungjawab atas pengawasan konten yang tersebar di platform buatannya itu.

Kendati begitu ia menegaskan langkah untuk memblokir atau menghapus unggahan seseorang adalah ketika ia mengunggah sesuatu dengan pemahaman yang melecehkan serta dianggap terlalu ekstrem oleh Facebook.

Oleh sebab itu, Facebook lebih memilih untuk memastikan bahwa unggahan yang salah tersebut tidak menjadi viral dan dibaca oleh banyak orang ketimbang menghapus atau memblokir si pemilik akun.

Baca juga: Foto Bersejarah Dianggap Pornografi Anak, Facebook Dihujat

Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X