Kompas.com - 24/07/2018, 10:31 WIB
Pertama kali masuk Kantor Google Indonesia, pengunjung disambut instalasi patung Android dan logo Google. Fatimah Kartini Bohang/Kompas.comPertama kali masuk Kantor Google Indonesia, pengunjung disambut instalasi patung Android dan logo Google.

KOMPAS.com - Komisi Eropa menjatuhkan denda sekitar lima miliar dollar AS atau sekitar Rp 72,3 trilun ke Google setelah dianggap terbukti bersalah melanggar undang-undang anti-pakat Uni Eropa.

Google disebut melakukan monopoli platform Android dalam model bisnisnya. Sepertinya, penalti tersebut membawa kabar kurang menyenangkan bagi pengguna Android.

Dalam postingan blog resmi Google yang ditulis oleh CEO Google, Sundar Pichai secara implisit mengancam jika platfom Android bisa jadi tidak gratis seperti saat ini.

"Selama ini, model bisnis Android tidak membanderol biaya bagi produsen ponsel yang menggunakan teknologi kami, tidak juga bergantung pada model distribusi yang dikontrol ketat," tulis Pichai.

"Tapi kami khawatir jika keputusan saat ini (didenda Komisi Eropa) akan mengganggu keseimbangan yang kami berlakukan di Android, dan akan menjadi pertanda buruk untuk mendukung kepemilikan sistem platform terbuka," jelas Pichai.

Secara halus, Pichai menyinggung "keseimbangan" yang merujuk ke model bisnis Android yang terbuka dan gratis. Hal tersebut seakan "mewant-wanti" para produsen ponsel dan pengguna Android soal perubahan model bisnis Android kedepannya.

Salah satu dakwaan yang dijatuhkan Komisi Eropa ke Google adalah skema bundling aplikasi pencarian Google dan peramban Chrome milik Google sebagai pre-instal app di ponsel Android.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Dalam model bisnisnya, aplikasi tersebut terpaket dengan Android yang disebut "bebas biaya".
Tanpa menyebut langsung soal itu, Pichai membeberkan fakta jika pengguna Android biasanya akan menginstal sendiri sekitar 50 aplikasi dan menghapus aplikasi pre-instal.

Ia menegaskan jika Google tidak diperbolehkan mem-bundling aplikasi besutannya, maka akan mengacaukan ekosistem Android.

"Jika produsen ponsel dan operator jaringan mobile tidak menyertakan aplikasi kami di perangkat mereka, maka akan mengganggu ekosistem Android," jelas Pichai sebagaimana KompasTekno kutip dari The Verge, Selasa (24/7/2018).

Komisi Eropa menuntut Google mengubah skema bisnisnya terutama soal aplikasi bundling. Namun, tidak pula memberikan solusi bagaimana model bisnis seharusnya yang disarankan.

Baca juga: Terbukti Monopoli Android, Google Didenda Rp 72 Triliun

Jika vendor smartphone atau operator jaringan bisa memasang aplikasi pencarian mereka sendiri ketimbang milik Google, maka pendapatan iklan Google jelas akan terpangkas drastis.

Sebab, mesin pencarian Google masih menjadi sektor utama pendapatan Google. Dilaporkan The Street, pendapatan dari iklan di pencarian mobile tumbuh 26 persen pada kuartal pertama 2018 menghasilkan 22 miliar dollar AS (sekitar Rp 318 triliun).

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Sumber The Verge
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.