Salah Paham, Facebook Sempat “Rayakan” Gempa Lombok - Kompas.com

Salah Paham, Facebook Sempat “Rayakan” Gempa Lombok

Kompas.com - 09/08/2018, 08:43 WIB
Pengungsi bersiap sebelum menunaikan salat Maghrib di tempat penampungan pengungsi korban gempa bumi di Desa Karang Subagan, Kecamatan Pemenang, Lombok Utara, Rabu (8/8/2018). Total Sebanyak 156.003 jiwa korban gempa bumi mengungsi dan diperkirakan akan terus bertambah.KOMPAS.com/GARRY ANDREW LOTULUNG Pengungsi bersiap sebelum menunaikan salat Maghrib di tempat penampungan pengungsi korban gempa bumi di Desa Karang Subagan, Kecamatan Pemenang, Lombok Utara, Rabu (8/8/2018). Total Sebanyak 156.003 jiwa korban gempa bumi mengungsi dan diperkirakan akan terus bertambah.

KOMPAS.com - Sejumlah pengguna Facebook sedang membahas gempa di Lombok dalam sejumlah posting di jejaring sosial tersebut. Tiba-tiba saja di dalam kolom percakapan muncul aneka balon dan confetti, seolah Facebook hendak “merayakan” peristiwa tragis itu

Ada apa gerangan? Algoritma otomatis Facebook rupanya salah mengenali kata “selamat” di percakapan yang bersangkutan.

“Selamat” dalam bahasa Indonesia bisa diartikan sebagai ucapan bernada pujian atau keadaan seseorang yang tidak menjadi korban, tergantung konteksnya.

Para peserta dalam percakapan yang ditingkahi balon tersebut sedang menyatakan keprihatinan dan berharap keselamatan untuk warga di Lombok.

Ucapan belasungkawa yang salah dipahami Facebook sebagai perayaan. Kata selamat jika diklik akan memunculkan balon dan confetti.Istimewa Ucapan belasungkawa yang salah dipahami Facebook sebagai perayaan. Kata selamat jika diklik akan memunculkan balon dan confetti.
Facebook menyadari adanya kesalahan konyol itu dan segera berupaya memperbaikinya.  

“Fitur ini (animasi yang dipicu dengan mengetik ‘selamat’, atau ‘congrats’ dalam bahasa Inggris) tersedia meluas secara global. Kami menyayangkan kemunculannya dalam konteks yang salah dan telah mematikan fitur tersebut secara lokal,” ujar seorang juru bicara Facebook, Lisa Stratton.

Sebagaimana dirangkum KompasTekno dari Motherboard, Kamis (9/8/2018), Stratton turut menyatakan pihak Facebook bersimpati terhadap para korban gempa bumi di Lombok.


Seorang mahasiswa Indonesia yang tengah menjalani program PhD ilmu komputer di Northeastern University, Herman Saksono mengaku terkejut algoritma Facebook salah mengenali makna “selamat” dalam konteks percakapan.

“Sebelum menerapkan fungsi macam ini, para peneliti biasanya menghabiskan banyak waktu untuk memastikan ia benar-benar cocok dengan budaya dan kebiasaan berbahasa di lokasi yang akan menjadi tempat penerapannya,” ujar Herman.

Gempa bumi di Lombok terjadi pada Minggu (5/8/2018) malam dengan magnitudo 7. Sejauh ini jumlah korban meninggal dilaporkan mencapai 131 orang. Sebanyak 156.003 orang terpaksa mengungsi dan terdapat 42.239 rumah mengalami kerusakan.

Baca juga: Facebook Safety Check Tertipu Berita Lawas Bom di Bangkok


Komentar

Terkini Lainnya

Close Ads X