Baidu Siap Lawan Google Jika "Dragonfly" Masuk China

Kompas.com - 10/08/2018, 07:29 WIB
PERAMBAN TIONGKOK -- Meski Tiongkok memblokir semua situs ternama produk luar negeri mereka, termasuk Google, namun Negeri Tirai Bambu ini mimiliki peramban (browser) buatan sendiri yang tak kalah cepat dan lengkap, yakni Baidu. Di peramban paling populer di Tiongkok ini, fitur semacam Wikipedia sudah terpasang di dalamnya. (KOMPAS/PEPIH NUGRAHA) (KOMPAS/PEPIH NUGRAHA)PERAMBAN TIONGKOK -- Meski Tiongkok memblokir semua situs ternama produk luar negeri mereka, termasuk Google, namun Negeri Tirai Bambu ini mimiliki peramban (browser) buatan sendiri yang tak kalah cepat dan lengkap, yakni Baidu. Di peramban paling populer di Tiongkok ini, fitur semacam Wikipedia sudah terpasang di dalamnya. (KOMPAS/PEPIH NUGRAHA)

KOMPAS.com - Perusahaan teknologi raksasa asal China, Baidu siap memasang kuda-kuda jika Google kembali lagi ke China. Sikap tersebut diutarakan CEO Baidu, Robin Li melalui akun WeChat miliknya.

"Google memutuskan untuk kembali ke China, kami sangat percaya diri, kami bisa menantang dan menang kembali," ujarnya.

Beberapa waktu lalu memang tersiar kabar jika Google berniat masuk ke China lagi setelah diblokir 2010. Google akan memboyong proyek berjuluk "Dragonfly".

Dragonfly merupakan mesin pencarian yang akan dilengkapi alat sensor kata-kata sensitif. Google juga disebut akan membawa layanan komputasi awan.

Baca juga: Google Siapkan Mesin Pencari Khusus untuk China

Pernyataan Li bukan tanpa alasan. Pasalnya, Baidu, yang kerap disebut Google-nya China ini memang berkecimpung dalam ranah bisnis yang sama dengan raksasa Silicon Valley itu.

Keduanya sama-sama menawarkan layanan mesin pencarian, komputasi awan, mengembangkan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), dan juga mengembangkan hardware.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Rencana kehadiran Google di Negeri Tirai Bambung dianggap menjadi ancaman bagi Baidu. Li sendiri mengungkapkan, sepeninggal Google, pertumbuhan bisnis Baidu semakin kuat di daratan China. Setelah Google hengkang, Baidu menyerap lebih dari 70 persen pasar China.

"Perusahaan teknologi China telah mengambil alih...Seluruh dunia meniru China," lanjutnya.

Jika usaha Google masuk ke China terwujud, agaknya Baidu benar-benar harus pasang badan. Sebab dalam sebuah polling yang digelar di situs Weibo, Baidu kalah telak dari Google.

Sebanyak 85,7 persen pemilih condong memilih Google ketimbang Baidu yang hanya memperoleh suara 6,6 persen.

Beberapa orang juga mengomentari kiriman Li dengan mengatakan bahwa akan mencopot aplikasi Baidu dan pindah ke Google.

Dirangkum KompasTekno dari The Verge, Jumat (10/8/2018), ketika Google masih ada di China, hasil pencarian selalu berbeda dengan Baidu.

Baca juga: Bus Tanpa Sopir Buatan Baidu Mengaspal 2019

Hasil pencarian Google disebut jauh lebih akurat dan minim sensor. Kabar Google akan kembali ke China langsung berdampak pada saham Baidu. Dilaporkan, saham Baidu langsung anjlok 7,7 persen.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Sumber The Verge
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.