Kompas.com - 18/08/2018, 19:13 WIB
Elon Musk, CEO SpaceX. Business InsiderElon Musk, CEO SpaceX.

KOMPAS.com - Mengembangkan satu perusahaan raksasa saja bukan hal mudah, apalagi kalau dua. Tak heran jika pendiri sekaligus CEO Tesla dan SpaceX, Elon Musk mengaku stres bekerja.

Tesla adalah salah satu perusahaan otomotif paling inovatif dengan inisiasinya menciptakan mobil listrik. Sementara itu, SpaceX adalah perusahaan antariksa yang berambisi membawa peradaban ke Mars.

Sebagai CEO dari dua perusahaan tersebut, bisa dibayangkan bagaimana kesibukan Elon Musk setiap harinya. Tak tahan lagi, ia pun mencurahkan isi hatinya dalam sebuah wawancara yang emosional via telepon.

Elon Musk yang digadang sebagai Iron Man di dunia nyata, karena kekayaan dan kejeniusannya, sesumbar menghabiskan waktu 120 jam per minggu untuk bekerja. Ia pun mengalami kesulitan tidur, sehingga kerap mengonsumsi obat penenang.

“Ini adalah tahun paling sulit dan menyakitkan dalam karir saya,” ujar dia.

Baca juga: Elon Musk: Mobil Terbang Lebih Banyak Mudaratnya

“Jika ada yang bisa bekerja lebih baik, beri tahu saya. Orang itu bisa memegang kendali perusahaan saat ini juga,” ia menambahkan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Elon Musk pun sempat menangis hingga meminta jeda wawancara. Hal ini mengakibatkan saham Tesla anjlok lebih dari 7 persen pada penutupan perdagangan, Jumat (17/8/2018) kemarin.

Para investor agaknya takut dan mempertanyakan kemampuan Elon Musk memimpin perusahaan. Kendati begitu, beberapa pihak mewajarkan dan menghubungkan pengakuan Elon Musk dengan kesehatan mentalnya.

Pasalnya, ia kerap melontarkan pernyataan yang memicu sentimen negatif di masyarakat. Paling anyar, Elon Musk melabeli tim penyelam yang menyelamatkan para pemain bola yang terjebak di gua di Thailand sebagai pedofil.

Chairman dan CEO Tesla Motors Elon Musk.carnewscafe.com Chairman dan CEO Tesla Motors Elon Musk.

Elon Musk juga tak segan mengumbar pernyataan arogan tentang perusahaannya. Pada 7 Agustus lalu, ia mengatakan via Twitter bahwa Tesla bakal kembali menjadi perusahaan privat melalui sebuah kesepakatan bernilai 20 miliar dollar AS (Rp 291 triliun).

Menurut profesor bisnis dan hukum Universitas Michigan, Erik Gordon, dewan direksi Tesla perlu mengambil tindakan serius atas masalah yang dialami Elon Musk.

“Jika dewan tak membuatnya keluar dari masalah ini, minimal dengan cuti, sepertinya dewan akan dilihat menelantarkan tugas mereka,” kata dia, sebagaimana dihimpun KompasTekno, Sabtu (18/8/2018), dari GadgetsNow.

Ia menyarankan dewan direksi Tesla mencopot posisi Elon Musk sebagai CEO dan menempatkannya sebagai penasihat teknis perusahaan. Hingga kini belum ada kejelasan soal tindak lanjut manajemen Tesla menyusul curahan hati Elon Musk.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Sumber GadgetsNow
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.