Apple Hapus Puluhan Ribu Aplikasi Judi Ilegal - Kompas.com

Apple Hapus Puluhan Ribu Aplikasi Judi Ilegal

Kompas.com - 21/08/2018, 12:07 WIB
ilustrasi ilustrasi

KOMPAS.com - Tak mau main-main dengan regulasi pemerintah, Apple dikabarkan telah menghapus sebanyak 25.000 aplikasi ilegal di Apps Store China. Hampir seluruh aplikasi tersebut terkait judi ilegal yang dilarang pemerintah di sana.

Menurut media setempat, penghapusan aplikasi ini merupakan salah satu upaya Apple untuk bekerja sama dengan regulator.

Selama ini, China memang dikenal memiliki aturan yang ketat terhadap industri teknologi dan Apple menjadi salah satu yang kerap mendapat kritikan karena dinilai sulit untuk bekerjasama dengan regulator.

"Kami telah menghapus cukup banyak aplikasi dan pengembang yang mendistribusikan perjudian ilegal di App Store kami. Kami waspada dan tengah dalam upaya untuk menghentikan mereka dari App Store," tulis pihak Apple dalam pernyataan resminya.

Baca juga: Dikira Markas Judi, Kantor Gameloft Yogyakarta Digerebek Polisi

"Aplikasi judi, ilegal dan tidak diizinkan di App Store China," lanjut mereka sebagaimana dikutip KompasTekno dari CNBC, Selasa (21/8/2018).

Jika dikalkulasikan, keseluruh aplikasi yang dihapus bisa mencapai 1,4 persen dari total aplikasi yang ada di App Store. Persentase ini tentu cukup besar apalagi mengingat ketatnya regulasi China dalam mengatur hal-hal yang berkaitan dengan teknologi, termasuk aplikasi ini.

Hubungan Apple dengan pemerintah China memang boleh dibilang cukup renggang. Apple kerap menjadi sasaran pemerintah karena dianggap sulit untuk bekerjasama. Bahkan baru-baru ini Apple mendapat kecaman dari pemerintah China yang menuduh perusahaan ini mengizinkan konten ilegal di platformnya.

Ini pun bukan pertamakalinya Apple diminta menghapus sejumlah aplikasi yang ada di App Store. Tahun lalu, pemerintah China meminta Apple untuk mencabut aplikasi yang memberi layanan Virtual Private Network (VPN).

VPN ini kerap digunakan para pengguna internet untuk melewati "Great Firewall" yang dimiliki China untuk membatasi akses internet ke situs-situs asing.



Close Ads X