Riset: Facebook Lebih Jago Basmi Hoaks Ketimbang Twitter

Kompas.com - 17/09/2018, 09:23 WIB
Gambar yang diambil pada 20 November 2017 ini menunjukkan logo Facebook, layanan media sosial yang berbasis di Amerika Serikat. AFP PHOTO/LOIC VENANCEGambar yang diambil pada 20 November 2017 ini menunjukkan logo Facebook, layanan media sosial yang berbasis di Amerika Serikat.

KOMPAS.com - Facebook dan Twitter, dua media sosial ini kerap menjadi medium di mana kabar hoaks disebarkan. Keduanya pun punya aturan serta upaya masing-masing demi memangkas peredaran berita palsu tersebut.

Namun ternyata upaya pemberantasan hoaks yang dilakukan Facebook jauh lebih efektif daripada Twitter. Hal ini terlihat dari sebuah hasil penelitian yang dilakukan mulai dari 2015 lalu sampai pertengahan 2018.

Para peneliti menganalisis performa situs hoaks pada periode Januari 2015 sampai Juli 2018. Ada sebanyak 570 situs yang masuk dalam penelitian ini.

Hasilnya para peneliti dari Stanford University dan New York University ini menemukan bahwa hingga Juli 2018 ini, jumlah penyebaran berita hoaks di Facebook menurun 60 persen sedangkan di Twitter malah meningkat.

"Penelitian ini menunjukkan bahwa interaksi pengguna dengan situs berita palsu terus meningkat di Facebook dan Twitter dari awal 2015 hingga setelah pemilu 2016. Namun kemudian menurun lebih dari setengahnya di Facebook tapi terus meningkat di Twitter," tulis para peneliti dalam sebuah studi bertajuk "Tren Difusi Misinformasi di Media Sosial".

Baca juga: [HOAKS] Pesan Berantai Internet Gratis 20 GB

Para peneliti menambahkan bahwa rasio keterlibatan pengguna Facebook dan Twitter pada penyebaran berita hoaks juga turut berpengaruh. Di Facebook, rasionya cukup besar di awal tahun 2015 sampai 2016 dan menurun setelahnya.

"Rasio keterlibatan pengguna Facebook dan Twitter yakni 40:1 di awal periode hingga akhir 2016 dan turun menjadi 15:1 di akhir periode pengujian kami," lanjut peneliti.

Kemudian mereka pun menambahkan bahwa tren penyusutan angka ini salah satunya disebabkan oleh perubahan alogaritma Facebook pada linimasa. Serta adanya kebijakan Facebook lain yang turut membantu pengguna mengidentifikasi berita hoaks.

"Sebaliknya, interaksi pengguna dengan situs berita mainstream, situs berita kecil, situs bisnis serta budaya tetap stabil. Upaya Facebook setelah pemilu 2016 untuk membatasi penyebaran misinformasi ternayta punya dampak yang berarti," ungkap peneliti, seperti dikutip KompasTekno dari The Verge, Senin (17/9/2018).

Sejak 2017 lalu Facebook memang semakin gencar memerangi penyebaran berita hoaks di linimasa. Layanan jejaring sosial itu tak sendiri memerangi berita palsu, namun turut memberdayakan pengguna dan pihak ketiga.

Baca juga: Hoaks di Twitter Lebih Gampang Menyebar dari Klarifikasi, Mengapa?

Ada tiga area yang menjadi fokus Facebook, yakni mempersulit para kreator hoaks untuk menerima insentif ekonomi di Facebook, membuat tool untuk stop penyebaran hoaks, dan mengajak pengguna untuk bersama-sama menjaring berita hoaks.

Tool khusus yang dimaksud Facebook muncul di sisi atas linimasa pengguna dalam beberapa hari di 14 negara pertama. Facebook bekerja sama dengan organisasi non-profit bernama "First Draft" untuk menyusun tool tersebut.

Selain itu Facebook juga bekerja sama dengan situs berita lokal ternama untuk membuat sebuah Fact Checker di mana lewat fitur ini pengguna akan diberi informasi apakah kabar yang beredar di linimasa adalah hoaks atau fakta.



Sumber The Verge
Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X