Janji Alibaba Buka Sejuta Lapangan Kerja di AS Batal Terwujud

Kompas.com - 20/09/2018, 15:03 WIB
CEO Alibaba Group Jack Ma (tengah) menyemarakkan Upacara Penutupan Asian Games ke-18 Tahun 2018 di Stadion Utama GBK, Senayan, Jakarta, Minggu (2/9/2018).  ANTARA FOTO/INASGOC/WahyudinCEO Alibaba Group Jack Ma (tengah) menyemarakkan Upacara Penutupan Asian Games ke-18 Tahun 2018 di Stadion Utama GBK, Senayan, Jakarta, Minggu (2/9/2018).
Penulis Oik Yusuf
|

KOMPAS.com - Jack Ma, sang pendiri sekaligus chairman raksasa e-commerce China, Alibaba, pernah berjanji bakal membuka 1 juta lapangan kerja di Amerika Serikat.

Namun belakangan Ma mengurungkan niatnya tersebut. Janji pun batal terwujud. Sebabnya tak lain dan tak bukan adalah perang dagang antara Amerika Serikat dan China yang dikobarkan oleh Presiden AS, Donald Trump.

Perang dagang itu dinilai Ma telah membuat situasi hubungan kedua negara menjadi tidak kondusif. “Tak ada jalan untuk memenuhi janji itu sekarang,” ujar Ma dalam sebuah wawancara dengan portal online China.  

“Tapi kami akan terus bekerja untuk mewujudkan hubungan dagang China-AS yang sehat,” imbuh dia, sebagaimana dirangkum KompasTekno dari The Verge, Kamis (20/9/2018). 

Ma melanjutkan, janjinya membuka sejuta lapangan kerja di Amerika Serikat dibuat berdasarkan asumsi hubungan bersahabat AS-China dan hubungan dagang yang rasional.

Baca juga: Daniel Zhang Gantikan Jack Ma Pimpin Alibaba, Ini Profilnya

Dia mengutarakan janjinya tersebut pada Januari 2017, sebelum pelantikan Donald Trump sebagai presiden AS. Namun, ketika itu pun sebenarnya sudah banyak pihak yang skeptis, karena Ma tidak membeberkan janjinya secara lebih rinci.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Awal pekan ini, setelah gagal memperoleh kata sepakat dengan China soal persyaratan dagang, AS merampungkan rencana tarif baru terhadap produk-produk impor dari Negeri Panda senilai 200 miliar dollar AS.

Tarif baru berupa tambahan pajak impor 10 persen untuk barang yang masuk ke AS, dan akan ditingkatkan menjadi 25 persen pada akhir 2018. Hampir semua perusahaan AS yang berbisnis dengan China ikut terdampak.

Selasa kemarin, Ma mengkritik taktik perang dagang AS itu dengan  mengatakan efeknya akan dirasakan selama puluhan tahun.

“Perdagangan itu bukan senjata, tak bisa dipakai untuk perang. Seharusnya digunakan untuk membawa kedamaian,” ujar ma.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Sumber The Verge
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.