Kesal dengan Media Sosial, Trump Akan Investigasi Google dan Facebook

Kompas.com - 24/09/2018, 18:07 WIB
Presiden AS, Donald Trump. ANDREW CABALLERO-REYNOLDS / AFP Presiden AS, Donald Trump.

KOMPAS.com - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump menginstruksikan lembaga anti-trust dan penegakan hukum untuk melakukan penyelidikan ke induk Google, Alphabet, Facebook, serta berbagai media sosial lainnya.

Draft penyelidikan diketahui masih dalam tahap awal dan belum dilimpahkan ke lembaga manapun. Rancangan tersebut berisikan amanah ke otoritas anti-trust untuk melakukan investigasi menyeluruh, apakah ada platform media online yang melangggar Undang-undang Anti-trust.

Lembaga pemerintah lainnya diimbau untuk memberikan rekomendasi dalam satu bulan setelah draft ditandatangani, untuk menjaga persaingan dan mengatasi bias di platform online. Draft tersebut meminta para lembaga federal untuk konsisten dengan undang-undang.

"Karena peran penting mereka di masyarakat Amerika, maka penting untuk melindungi warga Amerika dari tindakan tidak kompetitif yang dilakukan oleh sebagian besar platform online," tulis draft tersebut.

Dilaporkan Bloomberg, sebagaima KompasTekno lansir, Senin (24/9/2018), wakil juru bicara Gedung Putih, Lindsey Walters mengatakan jika draft tersebut belumlah hasil resmi dari Gedung Putih.

Jika nantinya dokumen tersebut telah ditandatangani, maka mandat dari Trump ini menegaskan eskalasi konflik antara Trump dan media sosial seperti Google dan Facebook, yang ia anggap telah meredam suara konservatif.

Baca juga: Trump Tuding Hasil Pencarian Google Dimanipulasi

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Kendati demikian, dalam draft itu tidak disebutkan perusahaan mana yang dimaksud. Melalui akun Twitter-nya, Trump yang tanpa menyertakan bukti, menuduh media sosial mendiskriminasi suara para Republikan atau Konservatif yang menjadi partai pengusung Trump.

Serba salah

Sementara itu, para petinggi media sosial mengaku serba salah, usaha mereka untuk memberantas kekerasan di platform masing-masing justru kerap menimbulkan kesalahpahaman dengan para politikus, baik dari sayap kanan atau kiri.

Seperti yang dialami Twitter, bulan Juli lalu algoritma mikroblog itu diketahui membatasi pencarian profil pada politisi Republik. Namun, CEO Twitter, Jack Dorsey mengaku jika pembatasan itu juga berdampak ke politisi partai Demokrat.

Halaman:


Sumber Bloomberg
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.